opini

Ilusi Inklusivitas, Kajian Peran Struktural Patriarki dan Reproduksi Diskriminasi Sosial

Jumat, 26 September 2025 | 11:55 WIB
Astuti Manut (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Bila budaya adalah rumah, maka partiarki adalah retakan yang perlahan memperlebar jurang diantara penghuninya.

Tradisi semacam itu bukanlah kearifan, melainkan luka yang diwariskan, luka yang menolak sembuh karena terus disembah.

Patriarki bukan hanya membatasi perempuan, tetapi juga memiskinkan imajinasi sosial kita. Bayangkan, beberapa banyak potensi yang hilang ketika suara perempuan tidak didengar

Berapa banyak solusi yang tak pernah lahir kerena pikiran perempuan diabaikan?

Inklusi sosial menuntut keterbukaan, partisipasi, dan kesetaraan. Namun selama patriarki ini berkuasa, inklusi hanyalah slogan indah tanpa makna nyata.

Bagaimana mungkin kita bicara soal keadilan sosial bila setengah populasi masih dipagari oleh norma yang mengekang?

Bagaimana mungkin kita menyebut masyarakat inklusif bila perempuan masih diperlakukan sebagai kelas dua?

Melawan patriarki sering dianggap sebagai ancaman bagi budaya. Padahal yang kita lawan bukanlah budayanya, melainkan diskriminasi yang menyelinap di dalamnya.

Budaya adalah hasil karya manusia, dan ia harus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Jika budaya tidak berubah, ia akan membusuk bersama ketidakadilan yang dipertahankannya.

Melawan patriarki bukanlah perang antara laki-laki dan perempuan. Ia adalah perjuangan bersama melawan sebuah sistem yang menindas semua orang dengan cara yang berbeda.

Kini sudah saatnya kita mencabut akar tua itu. Bukan merusak taman, melainkan untuk menyelamatkannya.

Sebab taman hanya akan hidup jika akar-akar racun digantikan oleh akar yang memberi kehidupan. 

Budaya harus dipelihara, tetapi diskriminasi tidak pantas dilestarikan. Inklusi sosial hanya untuk hidup ketika patriarki berani dilawan, bukan dipeluk sebagai pusaka.

Sebab, selama patriarki masih dipuja, inklusi sosial hanya akan menjadi puisi indah di atas kertas yang indah dibaca namun hampa untuk dihayati.

Tugas kita bukan sekadar menulis puisinya, tetapi mewujudkannya. Membiarkan semua bunga mekar, tanpa rasa takut, tanpa kehilangan cahaya, tanpa harus tunduk pada akar tua yang merampas kehidupan.

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB