opini

Penghormatan Martabat Manusia, Telaah Spirit Inklusi Sosial dari Evangelii Gaudium

Jumat, 26 September 2025 | 18:01 WIB
Maria Yunita Mbio (Mahasiswa STIPAS St. Sirius Ruteng)

Opini Oleh Maria Yunita Mbio (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Ruteng, Idenusantara.com - Evangelii Gaudium adalah dokumen apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2013, yang menekankan pentingnya evangelisasi dalam konteks masyarakat modern.

Salah satu tema sentral dalam dokumen ini adalah inklusi sosial, yang menjadi sangat relevan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik di era globalisasi.

Inti dari dokumen ini adalah semangat inklusi sosial, di mana Paus Fransiskus mengajak umat Katolik dan seluruh umat manusia untuk merangkul orang-orang miskin, terpinggirkan, dan rentan.

Dalam misi Injil dan Inklusi Sosial, Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa inti dari misi injil adalah untuk membawa kabar gembira kepada orang miskin.

Dalam dokumen ini, ia menantang gagasan bahwa gereja harus menjadi entitas yang berfokus pada dirinya sendiri, dan sebaliknya, ia harus menjadi "gereja keluar" yang proaktif dalam menjangkau pinggiran masyarakat.

Dalam hal ini, Paus Fransiskus menggunakan metafora gereja lapangan untuk menggambarkan peran gereja yang tidak hanya melayani di dalam tembok, tetapi juga berada di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan masyarakat.

Ini adalah bagian dari panggilan untuk bertobat dari sikap acuh tak acuh dan untuk aktif dan terlibat dalam perjuangan orang-orang yang terpinggirkan.

Penting untuk di ketahui dalam dokumen Evangelii Gaudium, tidak hanya berbicara tentang bantuan finansial tetapi juga tentang inklusi sosial secara menyeluruh.

Inklusi ini mencakup pengakuan terhadap martabat setiap individu, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau latar belakang mereka. Dalam pandangannya, gereja harus menjadi tempat yang menghakimi.

Panggilan inklusif ini secara inheren berkaitan dengan apa yang Paus Fransiskus sebut sebagai preferensi utama bagi kaum miskin.

Ini bukan sekadar tindakan amal atau belas kasihan sesaat, melainkan sebuah pilihan fundamental yang membentuk seluruh misi Gereja.

Kaum miskin, dalam pandangan Paus Fransiskus, bukanlah objek amal, melainkan subjek dari evangelisasi itu sendiri.

Mereka adalah cermin di mana kita bisa melihat wajah Kristus yang menderita. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan Injil.

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB