Toleransi, meskipun penting, sering kali tidak cukup untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Masyarakat yang hanya bertoleransi cenderung menganggap ketidakadilan sebagai masalah individu atau kelompok tertentu, bukan sebagai masalah struktural yang memerlukan perhatian dan tindakan kolektif.
Toleransi mungkin hanya mengarah pada pengakuan terhadap keberagaman tanpa disertai dengan upaya untuk menciptakan perubahan substantif bagi kelompok yang terpinggirkan.
Solidaritas, di sisi lain, mengajak kita untuk menyadari bahwa permasalahan ketidakadilan sosial bukanlah masalah satu kelompok, tetapi masalah bersama.
Untuk itu, solidaritas menuntut tindakan nyata, bukan hanya sikap menerima atau menghindari konflik. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya bertindak berdasarkan rasa hormat terhadap perbedaan, tetapi juga berdasarkan rasa tanggung jawab untuk berjuang bersama demi menciptakan keadilan sosial bagi semua.
Faktor yang Mendorong Pergeseran
Adapun beberapa faktor yang mendorong pergeseran dari sikap toleransi ke solidaritas antara lain:
1. Kesadaran terhadap Ketidakadilan Sosial: Ketika masyarakat semakin sadar akan ketimpangan dan ketidakadilan yang ada, misalnya melalui pendidikan, media, atau pengalaman langsung, maka keinginan untuk bergerak dari sekadar toleransi menuju solidaritas semakin kuat.
Ini mencerminkan kesadaran bahwa toleransi saja tidak cukup untuk menciptakan perubahan yang signifikan.
2. Peran Media Sosial: Media sosial memainkan peran besar dalam mempercepat pergeseran ini.
Melalui platform digital, isu-isu sosial yang sebelumnya terbatas pada kelompok tertentu kini bisa tersebar luas dan menjadi perhatian global.
Hal ini memunculkan rasa solidaritas yang lebih luas, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang saling mendukung dan bekerja bersama untuk perubahan.
3. Partisipasi dalam Gerakan Sosial: Gerakan sosial seperti Black Lives Matter, feminisme, dan gerakan iklim global semakin menarik perhatian banyak orang.
Gerakan ini tidak hanya mengandalkan toleransi terhadap perbedaan, tetapi juga mendesak aksi kolektif untuk memperbaiki kondisi yang tidak adil.
Partisipasi dalam gerakan-gerakan ini mendorong masyarakat untuk berpindah dari toleransi pasif ke solidaritas aktif.