opini

Agama Formal versus Tuhan Personal, Transformasi Keseimbangan Spiritual dalam Bingkai Keindonesiaan

Minggu, 28 September 2025 | 13:42 WIB
Fandikus Hasan (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Komunitas agama dapat menciptakan ruang yang aman bagi anggotanya untuk berbagi pengalaman spiritual mereka, tanpa takut dihakimi atau dikucilkan.

Dialog antar iman perlu terus dipromosikan untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan dan kesamaan spiritual, serta untuk mengatasi prasangka dan penolakan terhadap perbedaan.

Selain itu, penting untuk diingat bahwa spiritual sejati harus tercermin dalam tindakan nyata, dalam memperjuangkan keadilan,perdamaian, dan kesejahteraan bersama.

Pada akhirnya, esensi penghayatan spiritualitas di Indonesia terletak pada paduan yang harmonis antara agama formal dan Tuhan personal.

Sebab kita membutuhkan institusi agama yang relevan, toleran, dan mempromosikan kebaikan bersama, sekaligus individu-individu yang memiliki hubungan personal yang mendalam dengan Tuhan, yang mendorong mereka untuk berbuat baik, memperjuangkan keadilan, dan menjadi agen perubahan positif.

Dengan demikian, spiritualitas tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga kekuatan transformatif yang membangun masyarakat yang lebih adil, damai, dan beradab.

Halaman:

Terkini

Mengapa Semua Partai Akan Berebut Dedi Mulyadi?

Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:09 WIB

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB