Paste, Submit: Pengaruh AI terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

photo author
Carles Marsoni, Ide Nusantara
- Selasa, 9 Juni 2026 | 10:36 WIB

Pernahkah kita melihat mahasiswa menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit? Cukup mengetik perintah di aplikasi AI, menyalin jawabannya, lalu langsung mengumpulkannya. Fenomena "copy, paste, submit" semakin marak seiring berkembangnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Kemudahan ini memang membantu pekerjaan akademik, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan penting: apakah AI justru membuat mahasiswa makin jarang berpikir kritis?

Tidak bisa dipungkiri, AI membawa banyak manfaat untuk dunia pendidikan. Teknologi ini membantu mahasiswa memahami materi sulit, mencari referensi cepat, membuat ringkasan, hingga memberi contoh penulisan akademik. Jika digunakan tepat, AI bisa menjadi alat belajar yang efektif dan menghemat waktu.

Namun, kemudahan itu punya sisi lain. Penggunaan AI berlebihan memicu ketergantungan. Banyak mahasiswa mengandalkan AI tanpa berusaha memahami proses di balik jawabannya. Padahal, berpikir kritis adalah keterampilan dasar mahasiswa. Keterampilan ini mencakup menganalisis informasi, mengevaluasi berbagai sudut pandang, serta menyusun argumen logis berdasarkan fakta dan pemikiran sendiri.

Contohnya terlihat saat penyusunan esai atau makalah. Tidak sedikit mahasiswa yang langsung memakai tulisan AI tanpa membaca sumber atau menganalisis lebih lanjut. Akibatnya, saat diminta menjelaskan isi tugas dalam presentasi atau diskusi, mereka kesulitan menjawab. Tugas memang selesai, tapi proses belajarnya tidak berjalan optimal.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Ketergantungan pada AI juga menghambat kreativitas. Jawaban AI lahir dari pola data yang sudah ada, sehingga cenderung seragam. Jika mahasiswa hanya menerima tanpa mengembangkan gagasannya sendiri, kemampuan menciptakan ide orisinal akan melemah. Padahal pendidikan tinggi justru butuh individu yang mampu menawarkan perspektif baru dan solusi kreatif.

Karena itu, AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti berpikir. Mahasiswa perlu membiasakan diri mengecek ulang informasi dari AI, membandingkannya dengan sumber kredibel, lalu mengembangkan jawabannya lewat analisis pribadi. Di sisi lain, dosen juga perlu menerapkan metode yang memaksa mahasiswa aktif berpikir, seperti diskusi, studi kasus, presentasi, dan pemecahan masalah.

Pada akhirnya, AI adalah peluang besar bagi pendidikan. Tapi kemudahannya tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan daya kritis dan kreativitas. AI seharusnya jadi mitra belajar, bukan jalan pintas yang membuat mahasiswa berhenti belajar dan berpikir mandiri.

Artikel ini, ditulis oleh Mahasiswa Unika St.Paulus Ruteng, Felomena J.P Hardi, Shelomitha M.S Bole, Fransiska P. M Pinjang, Asdinus Ferdimanto, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah English for Juornalism.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Carles Marsoni

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB
X