opini

Perarakan Patung Bunda Maria Ruteng sebagai Katalis Inklusi Sosial dan Pembaharuan Ajaran Sosial Gereja

Minggu, 28 September 2025 | 18:22 WIB
Oktaviana Friska Bengkos (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Inklusi sosial adalah fondasi bagi masyarakat yang adil dan beradab. Ini adalah tentang memastikan bahwa setiap orang, tanpa memandang kondisi atau latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya.

Perarakan patung Bunda Maria Ruteng secara implisit dan eksplisit mempraktikkan beberapa prinsip:

Pertama, perarakan ini memberikan "suara" dan "ruang" bagi mereka yang mungkin sehari-hari merasa terpinggirkan.

Para lansia yang mungkin jarang keluar rumah, penyandang disabilitas yang didorong kursi rodanya, atau anak-anak kecil yang digendong orang tuanya, semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari keramaian.

Kehadiran mereka diakui dan dihargai, menegaskan bahwa iman dan devosi adalah milik semua, dan bahwa Gereja adalah rumah bagi setiap pribadi.

Kedua, perarakan ini membangun ikatan komunitas yang kuat. Persiapan perarakan melibatkan banyak pihak, dari panitia paroki, organisasi umat, hingga sukarelawan masyarakat.

Proses kolaborasi ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Setelah perarakan usai, ikatan-ikatan ini seringkali berlanjut dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial dan pelayanan, memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat.

Ketiga, perarakan ini dapat menjadi platform untuk menyuarakan keprihatinan sosial. Meskipun primernya adalah devosi, momen kebersamaan yang masif ini bisa dimanfaatkan untuk menyisipkan pesan-pesan tentang keadilan, perdamaian, atau pelestarian lingkungan, yang semuanya merupakan bagian integral dari Ajaran Sosial Gereja.

Melalui doa-doa bersama, renungan, atau bahkan spanduk yang dibawa, isu-isu sosial dapat diangkat ke permukaan, mendorong kesadaran dan refleksi kolektif.

Ajaran Sosial Gereja (ASG) adalah harta karun intelektual dan moral Gereja Katolik yang menawarkan prinsip-prinsip untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.

Prinsip-prinsip inti ASG meliputi martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, kebaikan bersama, dan pilihan preferensial bagi kaum miskin. Seringkali, ASG dipandang sebagai kumpulan doktrin yang abstrak, jauh dari realitas hidup sehari-hari.

Namun, perarakan Maria Ruteng membuktikan bahwa ASG dapat dihidupi dan diperbarui dalam praktik konkret.

Perarakan ini adalah sebuah "laboratorium" hidup di mana prinsip-prinsip ASG diuji dan diwujudkan. Martabat manusia ditegaskan ketika setiap peziarah, tanpa memandang status, diperlakukan dengan hormat dan setara.

Solidaritas terwujud dalam kepedulian antar peziarah dan kesediaan untuk berbagi beban. Kebaikan bersama menjadi tujuan utama, di mana upaya individu disatukan untuk mencapai tujuan spiritual dan komunal yang lebih besar.

Pembaruan ASG melalui perarakan ini bukan berarti mengubah doktrinnya, melainkan memperdalam pemahaman dan penerapannya.

Halaman:

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB