opini

Politik Dagang Sapi: Saat Ideologi Mati di Meja Transaksi

Selasa, 6 Januari 2026 | 07:04 WIB
Politik Dagang Sapi (Foto:Gambar Ilustrasi LM)

Rakyat Cuma Jadi Stempel
Apa yang tersisa untuk rakyat? Nihil.
Dalam skema dagang sapi, Pemilu hanyalah formalitas administratif. Rakyat diperlukan hanya lima menit di bilik suara untuk memberikan legitimasi. Setelah itu? Anda ditinggalkan.

Arah bangsa tidak lagi ditentukan oleh aspirasi publik, tapi oleh deal-deal di ruang VVIP. Akibatnya:
* Kebijakan lahir terburu-buru tanpa urgensi.
* Hukum tumpul ke kawan koalisi, tajam ke lawan politik.
* Stabilitas yang tercipta adalah stabilitas semu. Tenang di permukaan, tapi membusuk di dalam.

Bahaya Laten: Matinya Nalar Kritis

Politik dagang sapi menawarkan kenyamanan bagi penguasa: matinya oposisi. Semua diajak masuk, semua kebagian kue, semua kenyang, dan akhirnya: semua diam.

Ini bukan harmoni. Ini adalah pembungkamam sistematis yang halus. Ia mendidik publik menjadi apatis. "Ah, sama saja semuanya," gumam rakyat. Dan ketika rakyat sudah masa bodoh, saat itulah demokrasi resmi menjadi bangkai.

Catatan Akhir: Pasar Gelap Bernama Negara

Politik sejatinya adalah seni memperjuangkan nilai. Namun, ketika ia direduksi sekadar dagang sapi, politik kehilangan jiwanya.

Jika kekuasaan terus diperjualbelikan seperti daging di pasar, dan jika idealisme terus ditukar dengan jabatan, maka kita tidak sedang tinggal di negara demokrasi. Kita sedang hidup di tengah pasar gelap kekuasaan.

Halaman:

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB