IDENUSANTARA.COM - Seruan lantang kembali disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Manggarai dari Fraksi Demokrat, Lexy Armanjaya, saat menjalankan agenda reses di Desa Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Jumat (22/8/2025).
Di hadapan puluhan warga, legislator muda itu menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan harus benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya petani.
Menurut Lexy, kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa akan kehilangan makna jika rakyat di akar rumput masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
"Kemerdekaan itu bukan sekadar upacara di lapangan, tetapi harus hadir di meja makan keluarga, di ladang, di kebun, dan dalam hidup sehari-hari petani Manggarai," ujarnya.
Kemerdekaan Tak Cukup dengan Upacara
Momentum 17 Agustus, kata Lexy, memang penting sebagai pengingat sejarah. Namun, ia menegaskan, semangat kemerdekaan harus lebih dari sekadar pengibaran bendera.
"Kalau kemarin keluarga belum bisa makan lauk, lalu hari ini bisa makan lauk setiap hari, itulah kemerdekaan yang sebenarnya. Kalau anak-anak bisa berkuliah tanpa orang tua harus menjual ternak atau kebun, itulah kemerdekaan. Kalau petani bisa mengelola hasil kebunnya secara produktif dan menjual dengan harga yang adil, itulah merdeka yang membumi," tegas Ketua Fraksi Demokrat DPRD Manggarai itu.
Lexy menambahkan, jika perayaan kemerdekaan berhenti pada seremoni, maka substansi perjuangan bangsa justru diabaikan.
Baginya, kemerdekaan sejati diukur dari sejauh mana masyarakat kecil, khususnya petani, benar-benar merasakan perubahan hidup.
Baca Juga: 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Menutup Ilusi, Meraih Kedaulatan Sejati
Petani Manggarai Masih Hidup di Ambang Sulit
Mayoritas masyarakat Manggarai adalah petani, baik di sawah, ladang, maupun kebun kopi, cengkeh, dan tanaman hortikultura.
Namun, Lexy menilai kesejahteraan petani masih jauh dari harapan.
Harga komoditas kerap anjlok, pupuk bersubsidi sering langka, akses modal sulit diperoleh, dan pasar yang tidak stabil membuat petani terjebak dalam mata rantai panjang ketidakpastian.
Artikel Terkait
Padma Indoensia Desak Kapolres Kupang Transparan dan Jujur Usut Tuntas Kematian Dokter Abraham
Kasus Tabrak Maut Dokter Abraham Masih Misteri, Kasat Lantas Polres Kupang Abaikan Hak Keluarga Korban untuk Minta Informasi
Pelaku Penculikan Kepala Bank di Jakarta, Berhasil Ditangkap Polisi di Labuan Bajo
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma Membuka Rakerda Pemuda Katolik Komisariat Daerah NTT
Operasi Intelijen, Tim Tabur Kejati NTT Berhasil Menangkap DPO Kasus Pencabulan Anak di Kabupaten Kupang
Kajati NTT Tinjau Langsung Pemeriksaan Teknis Pembangunan 2.100 Rumah Khusus Eks Pejuang Timor-Timur di Kabupaten Kupang
Perlombaan Fun Run 2025, SMAN 1 Lelak Sapu Bersih Semua Kejuaraan