Refafi dan Heri memperlihatkan bahwa komunikasi, silaturahmi, dan keakraban tetap bisa dijaga meski arah perjuangan kini berbeda.
Candaan Refafi, "Satu rumah, beda kamar", menjadi metafora yang indah: bahwa mereka masih dalam rumah besar yang sama, yaitu rumah kebangsaan dan persahabatan.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Mentan Amran Capai Target Swasembada Dalam Satu Tahun
Acara ramah tamah itu berakhir dengan suasana penuh keakraban. Lagu-lagu daerah dinyanyikan bersama, canda berbalas tawa, dan kamera-kamera ponsel sibuk mengabadikan momen langka itu. Tidak ada garis batas di meja makan, hanya cerita lama yang dibalut nostalgia dan rasa hormat.
Sebelum berpamitan, Refafi sempat menepuk bahu Heri sambil tersenyum. "Kapal boleh beda, tapi lautnya tetap sama," katanya singkat.
Kalimat itu seolah menutup pertemuan dengan makna yang dalam, bahwa dalam politik sekalipun, yang abadi bukanlah posisi, melainkan persahabatan.
Artikel Terkait
Sinergi Budaya dan Bhayangkara: Bhabinkamtibmas Rahong Utara Jadi Teladan di Tengah Tradisi Adat
Real Madrid Unggul di Babak Pertama El Clasico: VAR, Gol Spektakuler, dan Aksi Mbappe-Bellingham Hiasi Laga
MAWATU, Magnet Baru Wisata dan Gaya Hidup Modern di Labuan Bajo
Peran Guru dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak di Sekolah Dasar
Ketika Janji Tinggal Cerita: Potret Politik Tanpa Akuntabilitas di Manggarai
PERMMAI-Ende Rayakan Dies Natalis ke-15: Bersaksi Injil dalam Organisasi
Calon Guru, Tapi Tak Suka Buku: Potret Suram Literasi Mahasiswa PGSD