Pemberitaan tersebut kemudian viral di sejumlah grup media lokal di Ende. Tak lama kemudian, muncullah telepon misterius dari seseorang yang mengaku "wartawan nasional" bernama Sylvester Keda.
Baca Juga: SBY Hadiri Haul ke-9 Haji Mochamad Thohir, Kenang Perjuangan Gigih Mendiang
Pemred NTT.News.net: 'Independensi Redaksi Tidak Bisa Ditekan Siapa Pun'
Alfonsius Andy menegaskan, tindakan yang dilakukan oleh Sylvester merupakan bentuk intervensi terhadap independensi pers dan tindakan tidak profesional yang melanggar etika jurnalistik.
Menurutnya, tidak ada satu pun individu, apalagi sesama jurnalis yang berhak memaksa sebuah media untuk menerbitkan klarifikasi tanpa prosedur yang sah.
"Dia siapa? Mau wartawan TV One atau wartawan senior, tetap tidak berhak menekan redaksi lain. Kami bekerja dengan standar konfirmasi dan verifikasi, bukan atas tekanan dari siapa pun," tegas Andy.
Ia juga mengungkapkan bahwa wartawan NTTNews.net di Ende, Rian Laka, telah mencoba menghubungi langsung Bupati Ende untuk konfirmasi, tetapi pesan WhatsApp tak direspons dan nomor justru diblokir.
Hal itu memperkuat keyakinan Andy bahwa tekanan lewat oknum lain adalah bentuk pengalihan tanggung jawab dari pihak yang sebenarnya berwenang memberi klarifikasi.
"Kalau Bupati merasa dirugikan, silakan hubungi redaksi langsung. Jangan kirim orang lain, apalagi yang datang dengan gaya menekan. Itu bukan etika jurnalistik, tapi gaya politik," tambah Andy.
Diduga Gunakan Nama TV One, Reputasi Media Nasional Dipertaruhkan
Yang membuat kasus ini semakin serius adalah dugaan penggunaan nama besar TV One oleh Sylvester Keda untuk memperkuat posisi tawar dan menekan redaksi media lokal.
Dalam percakapan telepon, Sylvester berulang kali menegaskan bahwa ia adalah wartawan TV One yang sedang bertugas memantau pemberitaan terkait ETMC 2025.
Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak TV One yang membenarkan atau membantah keterlibatan Sylvester.
Jika benar nama media besar itu digunakan tanpa izin atau di luar kapasitas resmi, maka tindakan tersebut berpotensi mencoreng citra TV One sebagai lembaga pers profesional yang menjunjung kode etik jurnalistik.
Artikel Terkait
MAWATU, Magnet Baru Wisata dan Gaya Hidup Modern di Labuan Bajo
Peran Guru dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak di Sekolah Dasar
Ketika Janji Tinggal Cerita: Potret Politik Tanpa Akuntabilitas di Manggarai
PERMMAI-Ende Rayakan Dies Natalis ke-15: Bersaksi Injil dalam Organisasi
Calon Guru, Tapi Tak Suka Buku: Potret Suram Literasi Mahasiswa PGSD
Baru Seumur Jagung, Proyek Strategis Labuan Bajo oleh PT Brantas Abipraya Dikritik: Drainase dan TPT Mulai Rusak Parah!
DPR Usulkan NTT Jadi Lokasi Uji Coba Bahasa Portugis Masuk Kurikulum Sekolah