Sementara itu, sejumlah organisasi wartawan di NTT menyerukan agar insiden ini menjadi peringatan kolektif, bahwa kemerdekaan pers tidak boleh ditukar dengan relasi pribadi, jabatan, atau akses kekuasaan.
Erles menutup dengan pesan yang menggugah: "Kita semua harus belajar dari kasus ini. Profesi wartawan itu bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan nurani. Kalau nurani dijual, maka yang tersisa hanya kebisingan tanpa kebenaran."
Hingga berita ini diterbitkan, Bupati Ende Benediktus Tote Badeoda belum memberikan keterangan atau hak jawab resmi terkait pemberitaan yang dimaksud.
Pihak TV One juga belum merespons permintaan konfirmasi mengenai status atau hubungan kerja Sylvester Keda.(*)
Artikel Terkait
MAWATU, Magnet Baru Wisata dan Gaya Hidup Modern di Labuan Bajo
Peran Guru dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak di Sekolah Dasar
Ketika Janji Tinggal Cerita: Potret Politik Tanpa Akuntabilitas di Manggarai
PERMMAI-Ende Rayakan Dies Natalis ke-15: Bersaksi Injil dalam Organisasi
Calon Guru, Tapi Tak Suka Buku: Potret Suram Literasi Mahasiswa PGSD
Baru Seumur Jagung, Proyek Strategis Labuan Bajo oleh PT Brantas Abipraya Dikritik: Drainase dan TPT Mulai Rusak Parah!
DPR Usulkan NTT Jadi Lokasi Uji Coba Bahasa Portugis Masuk Kurikulum Sekolah