“Harus kita tambah lagi. Kalau bisa sampai jumlah maksimal SPPG di NTT. Jika itu terealisasi, maka dampaknya akan jauh lebih besar untuk kita di NTT,” ucap Gubernur Melki.
Baca Juga: Ilusi Aman di Balik Dapur MBG: Saat APBN Jadi Jaminan Bancakan, Bukan Kesejahteraan
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Melki Laka Lena juga menegaskan beberapa hal penting kepada para koordinator wilayah, yayasan, serta mitra dalam menjalankan Program MBG.
“Pertama, Jaga integritas dan komitmen pelayanan. Program ini bukan proyek, tetapi amanah. Jangan pernah ada ruang untuk penyimpangan, pengurangan kualitas, atau praktik yang merugikan masyarakat. Kedua, pastikan kualitas gizi tetap menjadi prioritas utama. Jangan sekadar mengejar kuantitas distribusi. Makanan yang diberikan harus benar-benar memenuhi standar gizi, higienis, dan layak konsumsi. Ketiga, Bangun kolaborasi yang kuat dengan pemerintah daerah dan SPPG. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Sinkronisasi data, pelaporan, dan pelaksanaan di lapangan harus solid dan saling mendukung baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga tingkat desa/kelurahan,” ungkap Melki.
“Keempat, Responsif terhadap evaluasi dan perbaikan. Jangan alergi terhadap kritik. Setiap masukan adalah bagian dari upaya kita untuk menyempurnakan program ini. Dan terkahir kelima, hadir dengan empati dan tanggung jawab sosial. Ingat, yang kita layani adalah anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan, balita yang sedang bertumbuh, dan ibu hamil yang sedang membawa masa depan generasi NTT.” Tambah Melki.
“Dan terkahir, saya juga mengingatkan kita semua yang terlibat dalam program MBG untuk tetap menjaga sikap, menjaga integritas diri, jauhi gaya hidup pamer yang bisa menimbulkan kesan negatif dimata masyarakat. Kita doakan bersama agar program MBG ini terus berjalan semakin baik lagi.” Pungkas Gubernur Melki.
Artikel Terkait
Ilusi "Aman" di Balik Dapur MBG: Saat APBN Jadi Jaminan Bancakan, Bukan Kesejahteraan
Petani NTT Bersyukur, 3.000 Pohon Buncis Terserap Semua Berkat MBG