Manggarai Timur - Di tengah pembangunan yang semakin menggeliat, terselip satu titik luka yang tak kunjung sembuh, Pasar Lalang, sebuah bangunan gedung megah satu lantai yang terletak di Desa Lalang, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi NTT yang dibangun pada 2009 dan diresmikan pada 2010 oleh Bupati Yosep Tote, saat ini hancur terbengkalai.
Warga setempat menyebut kalau pasar lalang tak ada asas manfaatnya. Fakta ini semakin menguatkan dugaan adanya kesalahan perencanaan dan pengelolaan aset publik.
Pasar lalang sempat aktif pada akhir 2015 hingga Maret 2016.
Ironisnya, bangunan yang dahulu dibangun dengan semangat ekonomi kerakyatan ini kini menjelma menjadi simbol keterbengkalaian dan abainya perhatian pemerintah kabupaten Manggarai Timur, terhadap ruang publik yang seharusnya menjadi denyut nadi warga.
Baca Juga: Tanggapan Kejati NTT soal Gedung Rawat Inap RSU Borong yang alami Keretakan Dini
Sudah kurang lebih 17 tahun berlalu, gedung pasar lalang seakan ditinggalkan dalam puing-puing sejarah tanpa upaya revitalisasi yang berarti. Lantai demi lantai pasar ini kini menyimpan kisah yang memprihatinkan, dinding tembok serta tiang mulai retak menandakan betapa bangunan ini telah kehilangan fungsi aslinya.
Padahal, dari segi letak, pasar ini memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat ekonomi mikro yang hidup dan berdaya saing.
Yang menjadi pertanyaan publik, ke mana perhatian Pemerintah Daerah Manggarai Timur? Mengapa hingga kini belum ada langkah konkret untuk menata ulang pasar ini?
Apakah Pasar Gotong Royong sudah dianggap tidak penting, atau ada kepentingan lain yang membuatnya sengaja dibiarkan terbengkalai?
Saat berbagai kota lain di Indonesia berlomba-lomba mempercantik pasar tradisional sebagai wajah lokalitas dan perekonomian rakyat, Manggarai Timur justru membiarkan pasa lalang menjadi bangunan mati.
“bangunan mati suri” di tengah geliat pertumbuhan kabupaten Manggarai timur. Jika alasan dana dan prioritas pembangunan menjadi kendala, mestinya ada transparansi dan partisipasi publik untuk mencari solusi bersama," Ujar warga setempat yang namanya diminta untuk tidak dipublikasikan
Pasar yang sebelumnya diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi warga kini ditumbuhi rumput liar. Menurutnya, jika tidak segera difungsikan, bangunan pasar berpotensi mengalami kerusakan lebih parah dan hanya akan menjadi proyek mubazir.
Ia juga menyoroti peran Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan dan Usaha Kecil Menengah (Koperindag dan UKM) Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Basilius Teto, yang menjabat pada waktu itu.
Artikel Terkait
Tanggapan Kejati NTT soal Gedung Rawat Inap RSU Borong yang alami Keretakan Dini
KOMPAK Indonesia Desak Pengungkapan Orang Kuat Dibalik Korupsi Eks Jampidsus