Idenusantara.com - Angin sore menyapu pelan dedaunan kering di pelataran rumah kecil berdinding papan tua itu. Di sudut Kampung Gorong, Dusun Compang, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Manggarai Timur, berdirilah sebuah rumah reyot berukuran 6x7 meter yang nyaris tak layak disebut sebagai tempat tinggal. Namun di sanalah kisah perjuangan hidup seorang anak perempuan kecil bernama Nazaria Tasia Laka, atau yang akrab disapa Tasia, berlangsung setiap hari dalam senyap, dalam sunyi, dalam derita yang panjang.
Tasia adalah seorang anak yatim piatu. Ibunya meninggal dunia saat ia baru menginjak usia tiga tahun lebih. Ayahnya bahkan lebih dahulu pergi meninggalkannya saat Tasia baru berusia lima bulan.
Baca Juga: Polres Ende Sigap Tangani Longsor di Wolowaru
Sejak saat itu, dunia kecil Tasia hanya berisi dua orang yang mencintainya tanpa syarat, yakni sang kakek dan nenek yang sudah lanjut usia. Di pundak dua orang renta itulah seluruh beban hidup Tasia diletakkan.
“Sejak kecil Tasia tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan ibu,” tutur neneknya, saat ditemui media ini pada Kamis (12/6).
“Kami berusaha menggantikan semuanya, walau kami tahu kami tak punya banyak," tuturnya lagi.
Cinta Dalam Sepi dan Lelah
Hidup mereka nyaris tak berubah sejak dulu, bangun pagi dengan perut kosong, pergi ke kebun tetangga dengan bayaran Rp 50.000 sehari, pulang menjelang senja hanya untuk mengisi perut dengan nasi dan garam atau rebusan daun singkong.
Mereka memiliki sebidang kebun, namun hasilnya tak seberapa. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sering kali tidak cukup, apalagi jika harus membeli susu, perlengkapan sekolah, atau biaya pengobatan.
Namun mereka tidak pernah mengeluh. Mereka bekerja, berdoa, dan berharap. Kakek-nenek Tasia percaya bahwa cinta walau datang dari dua tubuh yang mulai rapuh, tetap bisa menjadi kekuatan untuk membesarkan cucu mereka yang malang.
“Kalau bukan kami, siapa lagi? Kami hanya punya dia, dan dia hanya punya kami," ucap sang kakek pelan.
Sakit yang Diam-Diam Merenggut Masa Kecil
Namun Tuhan seakan menguji mereka lebih jauh. Saat Tasia duduk di bangku kelas dua SD, tubuhnya mulai sering lemah, batuk tak kunjung reda, dan demam berulang.