Baca Juga: Resmikan Kampus Bhineka Tunggal Ika di Bogor, Prabowo Sebut Pendidikan Sebagai Pilar Kemajuan Bangsa
Setelah melalui beberapa kali pemeriksaan, Tasia didiagnosis mengidap TB Paru dalam kondisi kritis. Tak hanya itu, ia juga menunjukkan gejala HIV/AIDS stadium 3. Dunia mereka seolah runtuh.
Sejak itu, hidup yang sudah berat menjadi lebih gelap. Tasia harus rutin minum obat, mengonsumsi makanan bergizi, dan mendapatkan perhatian medis. Namun semua itu jauh dari jangkauan mereka. Untuk pergi ke dokter, mereka harus menunggu uang hasil kerja harian. Kadang mereka harus mengutang, kadang menunggu panen kecil yang tak menentu.
“Kami tahu Tasia butuh susu, butuh makan yang baik. Tapi bagaimana? Bahkan kadang kami bertiga hanya makan satu kali sehari,” kata neneknya sambil mengelus kepala Tasia yang sedang duduk diam di pangkuannya.
Mimpi Sederhana di Tengah Penderitaan
Kini, Tasia telah menginjak kelas 6 SD. Meski tubuhnya kurus dan lemah, matanya tetap menyimpan semangat kecil yang tidak padam. Ia tetap ingin sekolah, tetap ingin menjadi seseorang kelak. Ia masih bermimpi, walau dunia seperti menolaknya bermimpi.
“Aku mau sembuh. Aku mau jadi guru,” ucap Tasia dengan suara lirih.
Baca Juga: Ternyata Tidur yang Cukup Bisa Membuatmu Terlihat Lebih Cantik
Di balik tubuh kecil yang sering kelelahan itu, Tasia menyimpan kekuatan yang tidak dimiliki oleh banyak orang dewasa, yaitu ketabahan untuk bertahan hidup dan keyakinan bahwa masa depan masih mungkin diraih, meski sekarang semuanya terasa mustahil.
Ketabahan yang Tak Butuh Panggung
Hari-hari mereka tidak berubah. Pagi dimulai dengan doa, siang dengan keringat, malam dengan harapan kosong. Kakek-nenek Tasia tidak tahu bagaimana besok akan dijalani, tapi mereka percaya bahwa selama mereka hidup, Tasia harus hidup.
Mereka tidak menuntut bantuan. Mereka tidak meminta belas kasihan. Tapi kisah mereka pantas untuk didengar, karena di kampung kecil yang jauh dari sorotan ini, ada seorang anak dan dua orang tua renta yang menunjukkan makna sebenarnya dari keteguhan dan cinta.
Mereka tidak butuh simpati. Mereka butuh aksi nyata.
Harapan Itu Masih Ada!
Di tengah gelapnya penderitaan, setitik cahaya masih menyala dalam diri Tasia. Ia tidak menyerah. Ia masih belajar, membaca buku-buku lusuh yang disumbangkan orang-orang baik hati. Ia masih pergi ke sekolah saat tubuhnya sanggup. Ia masih tersenyum ketika diajak berbicara, meski senyumnya lebih banyak menyimpan luka.