"Selama petani kita hanya menanam dan memelihara dalam skala kecil untuk sekadar hiasan pekarangan, kita belum bisa mengatakan itu bentuk kemerdekaan. Kemerdekaan itu hadir saat petani berani mengembangkan usaha besar, memelihara ratusan ternak, menanam ribuan pohon kopi, cengkeh, sayuran, lombok, dan buah-buahan, serta mampu merawatnya dengan baik," jelasnya.
Baca Juga: 15 Pelajar Terbaik di Manggarai Resmi Dikukuhkan sebagai Paskibraka 2025
Lexy menegaskan, kemerdekaan petani hanya bisa dikatakan tuntas jika mereka mampu membiayai pendidikan anak, menikmati makanan bergizi, membangun rumah layak, serta meningkatkan martabat keluarga.
Peran Pemerintah Daerah Sangat Vital
Dalam reses tersebut, Lexy juga menyoroti peran penting pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa pemerintah, melalui Dinas Pertanian, tidak boleh membiarkan petani berjalan sendiri menghadapi berbagai kesulitan.
"Dinas Pertanian harus bekerja keras agar pertanian menjadi primadona. Dinas ini harus membuat orang bangga menjadi petani. Jangan biarkan mereka hanya bergantung pada nasib. Pemerintah harus hadir sepenuhnya, dari penyediaan bibit unggul, pupuk, modal usaha, teknologi, hingga akses pasar," katanya.
Baca Juga: Pemerintah Manggarai Ajak Pelajar Ziarah, Tanamkan Semangat Patriotisme Sejak Dini
Lexy mengingatkan, perhatian pemerintah tidak boleh bersifat proyek jangka pendek, melainkan kebijakan berkelanjutan yang menyelesaikan akar persoalan klasik:
- harga komoditas yang jatuh saat panen raya,
- keterbatasan pupuk dan sarana produksi,
- minimnya fasilitas penyuluhan,
- lemahnya akses permodalan dan pasar.
Tanpa kebijakan yang tepat, ia menilai, petani hanya akan terus berputar-putar dalam lingkaran masalah yang sama.
Kemerdekaan Harus Membumi di Sawah dan Kebun
Lebih jauh, Lexy mengajak masyarakat untuk melihat kemerdekaan secara realistis. Baginya, merdeka berarti petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan, melainkan mampu berdiri tegak karena ada iklim pembangunan yang kondusif.
"Merdeka itu ketika anak-anak desa bisa sekolah tinggi tanpa takut biaya. Merdeka itu ketika orang tua bisa menyediakan makanan bergizi. Merdeka itu ketika hasil kebun petani dihargai adil di pasar. Dan merdeka itu ketika setiap keluarga merasa bangga hidup sebagai petani, jelas legislator asal Dapil Ruteng, Lelak, dan Rahong Utara itu.
Baca Juga: Darurat TBC di Manggarai, Pemerintah Dorong Kesadaran Warga
Optimisme di Tengah Tantangan dan Makna Baru Kemerdekaan bagi Manggarai
Meski kondisi petani Manggarai masih jauh dari sejahtera, Lexy tetap optimistis. Ia percaya, kemerdekaan sejati bisa diwujudkan jika ada kerja kolektif antara pemerintah, legislatif, swasta, dan masyarakat.