daerah

Kisah Pilu Martina, Ibu Rumah Tangga Yang Gigih Menghidupi Keluarga Setelah Suami Terkena Stroke

Selasa, 3 Maret 2026 | 20:35 WIB
Mama Martina dan Herman suaminya di kediaman mereka (Foto:Jhii Serlenso-Idenusantara.com)

 

Martina menerangkan bahwa kesehariannya Herman Ngaa hanya berbaring dan duduk di tempat tidur saja.

"Sudah tiga tahun ia mengalami stroke yang mengakibatkan sebagian badan dan kedua kakinya tidak bisa digerakkan," tuturnya.

"Sejak suami sakit, saya menggantikan posisinya sebagai tulang punggung keluarga. Memelihara serta menyekolahkan ketiga cucu saya ini dengan bekerja sebagai petani dan buruh tani yang penghasilannya tidak tetap.Untuk makan sehari-haripun amat susah", ungkap Martina dengan nada penuh haru.

"Kadang saya harus ikut harian bekerja di kebun orang dengan bayaran Rp50.000 satu hari," katanya.

Baca Juga: Inflasi sebagai Pajak Tersembunyi: Saat Nilai Uang Menguap Tanpa Disadari

Penghasilan ini sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan ia dan suami serta ketiga cucunya, yang harus mengeluarkan biaya sehari-hari dengan penghasiln tidak tetap.

“Suami stroke dan tidak berdaya. Jadi saya gantikan suami bekerja supaya cucu bisa makan dan sekolah," tutur Martina.

"Saya memang peserta PKH. Tahun-tahun sebelumnya saya dapatkan sedikit rejeki dari bantuan itu namun kini tidak lagi entah mengapa, pernah juga dapat BLT kesra.Pernah sekali saya bawa suami saya kontrol ke Puskesmas terdekat dan hingga kini tak pernah lagi, saya inginkan suami sembuh dengan membawanya berobat ke Rumah Sakit, namun biaya yang menjadi kendala.Amat susah bagi saya menghadapi keadaan hidup seperti ini," terang Martina penu haru sambil mengusap air matanya.

Baca Juga: Berkas Lengkap, Kasus Kecelakaan Maut Kapal Layar Motor Putri Sakinah Segera Dilimpahkan Ke Kejari Manggarai Barat

Demi cucunya Ibu Martina harus rela bekerja keras agar mereka bisa sekolah karena baginya pendidikan merupakan hal yang paling mendasar untuk masa depan ketiga cucunya walau hidup ditengah keterbatasan biaya dan faktor ekonomi rumah tangga yang tidak jelas.

"Cucu Serin(13) suda SMP, sedangkan Fio (10) dan Felisa (9) masih SD.Bagi saya pendidikan adalah nomor satu agar suatu saat mereka dapat mengenal dunia. Walau kadang amat susah untuk biaya dan membeli perlengkapan sekolah mereka." tutur Martina.

Ia pun berharap adanya uluran tangan kasih Tuhan lewat orang-orang baik untuk dapat meringankan beban keluarganya.

Ibu Martina juga meminta perhatian pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk memberikan sedikit bantuan perawatan agar suaminya bisa mendapatkan perawatan yang layak, rumah layak huni, MCK dan mendapatkan bantuan lainya seperti sembako untuk menunjang kehidupan mereka.

 

Halaman:

Tags

Terkini