daerah

Tangis Maria Bocah 3Tahun di Manggarai Timur: Butuh Pertolongan, Kepala Terus Membesar, Orangtua Habis Harta Demi Pengobatan

Senin, 25 Mei 2026 | 08:46 WIB
Maria, bocah 3 tahun asal Nangarawa, Desa Bamo, Manggarai Timur (Foto: J. S-Idenusantara.com)

 

Idenusantara.com-Tangis dan harapan bercampur aduk di gubuk sederhana keluarga Petrus dan Sesilia di Kampung Nanga Rawa, Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Di sana, seorang bocah perempuan berusia 3 tahun bernama Maria berjuang melawan penyakit yang perlahan menggerogoti masa kecilnya.

Sejak lahir, kepala Maria terus membesar akibat penumpukan cairan di dalam kepala. Warga setempat menyebutnya “nana”. Seiring waktu, kondisi Maria bukannya membaik, justru semakin memburuk. Kepalanya membesar, sementara tubuhnya menyusut hingga berat badannya kini setara dengan bayi.

Baca Juga: Kisah Mengharukan; Fandi Melawan Infeksi Tulang di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Hampir setiap hari, Maria mengalami kejang tak terkendali. Sekali serangan bisa berlangsung hingga satu jam penuh. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan lari-larian bersama teman sebaya, tetapi Maria hanya bisa terbaring lemah menahan sakit.

“Kami sudah bawa ke Kupang tiga kali. Biaya dari pemerintah daerah. Tapi sampai sekarang belum ada perubahan. Cairannya memang keluar, tapi bentuk kepala masih besar,” ujar Arsen, kerabat keluarga, dengan suara bergetar, pada Minggu (24/05/2026).

Kedua Orang Tua yang merindukan

Upaya keluarga sudah habis-habisan. Tabungan, harta benda, kadang dijual demi biaya pengobatan. Kini mereka tak punya apa-apa lagi.

“Kalau mau kontrol ke rumah sakit terdekat saja kami tidak punya biaya. Sehari-hari makan seadanya. Kadang saya kerja harian di kebun orang, upahnya Rp50 ribu per hari. Suami melaut, tapi kalau cuaca buruk tidak bisa pergi,” cerita Sesilia, ibu Maria, sambil menahan tangis.

Baca Juga: Dari Pena ke Kursi Roda: Jurnalis Nardi Jaya Wujudkan Impian 4 Penyandang Disabilitas di Manggarai Timur

Keluarga ini bahkan tidak memiliki handphone untuk meminta bantuan. Dulu, mereka pernah mendapat bantuan dari Kapolres dan Dinsos Matim berupa uang, sembako, dan perlengkapan. Namun bantuan itu habis, dan kini Maria kembali sakit. Kejang-kejang sering datang lagi.

“Mau berobat tidak cukup biaya transportasi pulang-pergi. Beli susu sehari-hari saja susah. Beli beras saja saya harus pergi kuli dulu,” lanjut Sesilia.

Petrus, ayah Maria, kini hanya bisa pasrah sambil berharap ada keajaiban. Cuaca buruk membuat ia jarang bisa melaut. Satu-satunya harapan keluarga kecil ini adalah operasi dan penanganan medis lanjutan yang membutuhkan biaya besar.

“Kami berharap pemerintah dan orang-orang baik bisa membantu Maria supaya mendapat operasi dan bisa sembuh,” ucap Sesilia dengan mata berkaca-kaca.

 

Halaman:

Tags

Terkini