daerah

"Tolong Selamatkan Jein" - Bocah 11 Tahun di Kaju Wangi Kesakitan Tiap Malam, Orang Tua Pasrah Karena Biaya

Selasa, 4 Agustus 2026 | 20:27 WIB
Jein asal kampung Mboeng desa Kaju Wangi saat ini mengalami sakit di kedua matanya (Foto: Dok. JS)

Idenusantara.com-Tangis pecah setiap malam di rumah sederhana di Kampung Mboeng, Desa Kaju Wanggi, Kecamatan Elar, Manggarai Timur. Bukan karena lapar. Tapi karena Arnoldus Sono dan istri tak tega melihat putri mereka, Maria Jeane Kembo atau Jein, 11 tahun, merintih menahan sakit di kedua matanya.

Sejak lahir pada 13 Mei 2015, Jein hidup dalam gelap. Ia buta dan terus merasakan sakit yang belum kunjung sembuh.

Baca Juga: John Sitorus: Dedi Mulyadi Besar di Golkar, Bukan Gerindra, Berpeluang Lawan Prabowo di Pilpres 2029

Sudah Diobati, 1 Mata Kambuh Lagi

Tahun lalu Jein sempat dibawa berobat dan menjalani penyedotan cairan di kedua bola matanya. Sempat ada harapan. Tapi seiring waktu, 1 matanya kembali sakit hingga sekarang. Bahkan tiap hari rasa sakit itu datang.
Seminggu terakhir kondisi Jein semakin memburuk. Kedua matanya mengeluarkan nanah dan darah.

"Setiap malam dia tidak bisa tidur. Menangis terus. Kedua orang tuanya hanya bisa nangis. Sakit sekali rasanya lihat anak sekecil ini menahan sakit," ujar sang ayah.

Dokter sudah memberi tahu, jika tidak segera sembuh maka langkah terakhir adalah operasi pengangkatan bola mata di RS Surabaya.

"Saya tidak minta banyak, Pak. Saya hanya mau lihat Jein sembuh. Bisa tidur nyenyak seperti anak lainnya. Bisa besar dan panggil saya 'ayah dan ibu'. Itu saja sudah cukup. Tolong bantu kami," ucapnya pilu.

Baca Juga: Mengapa Semua Partai Akan Berebut Dedi Mulyadi?

Ayah Petani: "Uang Beli Beras Saja Kadang Tidak Ada"

Arnoldus Sono hanya seorang petani di pelosok Manggarai Timur. Penghasilan tidak menentu. Untuk makan sehari-hari saja sering pas-pasan.
Keluarga ini terdata Desil 1 penerima PKH dan Sembako dari Kemensos. Namun bantuan itu jauh dari cukup untuk biaya pengobatan.

Saat dokter memvonis Jein harus segera dioperasi di Surabaya, harapan Arnoldus hampir padam.

"Saya ini siapa, Pak. Saya petani. Uang buat beli beras saja kadang tidak ada. Bagaimana saya mau bawa anak saya ke Surabaya? Biaya mobil, kapal, tempat tinggal, obat, semua butuh uang," katanya dengan suara tercekat.

"Saya pasrah di hadapan Tuhan. Tapi sebagai bapak, saya mau berjuang untuk anak saya. Tolong bantu kami. Saya tidak mau anak saya kenapa-kenapa karena kami miskin," lanjutnya.

Halaman:

Tags

Terkini