daerah

Puluhan Tahun Tanpa Air Bersih, Warga Kajuata di Manggarai Timur Harus Berjalan 2 Kilometer

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 13:28 WIB
Puluhan Tahun Tanpa Air Bersih, Warga Kajuata di Manggarai Timur Harus Berjalan 2 Kilometer

IDE NUSANTARA.COM — Akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan serius bagi warga Dusun Kajuata, Desa Golo Lebo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selama puluhan tahun, warga harus berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dialami 48 kepala keluarga atau sekitar 170 jiwa. Mereka harus melewati medan terjal berupa tanjakan dan turunan untuk mencapai sumber mata air yang jauh dari permukiman.

Baca Juga: Kesempatan Emas Karier! Depo Sumber Bangunan Buka Lowongan Kerja di Bima, Tente, dan Dompu

Kesulitan itu semakin terasa ketika musim hujan tiba. Jalan yang berlumpur dan licin membuat perjalanan untuk mengambil air menjadi lebih berbahaya. Penggunaan sepeda motor pun tidak selalu memungkinkan.

Salah satu tokoh masyarakat Dusun Kajuata yang enggan namanya dimediakan, mengatakan, warga selama ini mengandalkan tenaga sendiri untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, termasuk untuk minum dan keperluan domestik lainnya.

"Warga harus berjalan kaki sambil memikul jeriken air. Kalau pakai motor hanya bisa saat musim kemarau. Kalau musim hujan, jalannya jadi lumpur licin dan sangat berbahaya," kata warga tersebut.

Baca Juga: Lansia Berpeluang Dapat PKH Rp600 Ribu per Tahap, Ini Daftar Bansos Oktober 2026

Menurut dia, persoalan tersebut bukan baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Warga telah menghadapi kesulitan serupa selama puluhan tahun, tanpa kepastian penyelesaian yang dapat menjamin ketersediaan air bersih di dekat permukiman.

Waktu dan tenaga yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lain justru tersita untuk mengambil air.

Situasi ini menjadi beban tersendiri bagi keluarga yang setiap hari harus memastikan kebutuhan air rumah tangga tetap terpenuhi.

"Kami sangat merindukan hadirnya sumber air yang dekat dan layak di permukiman. Kami tidak ingin lagi memikul jeriken sejauh itu setiap hari," ujarnya.

Baca Juga: Bupati Hery Nabit Tekankan APBD Perubahan 2026 Tepat Sasaran, Pemulihan Pascagempa Jadi Prioritas

Dua Sekolah Ikut Terdampak

Krisis air bersih di Kajuata tidak hanya membebani rumah tangga. Persoalan ini juga berdampak pada kegiatan pendidikan di SMP Negeri 12 Elar dan SDK Kai.

Ketersediaan air merupakan kebutuhan mendasar bagi sekolah, terutama untuk memenuhi kebutuhan air minum, kebersihan lingkungan, serta sanitasi siswa dan tenaga pendidik.

Ketika akses air sulit, pemenuhan kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini memperlihatkan bahwa krisis air bersih di Kajuata bukan semata-mata persoalan jarak menuju sumber mata air, melainkan juga menyangkut kelayakan hidup masyarakat dan lingkungan belajar anak-anak.

Baca Juga: Honorer Mengabdi 5 Tahun Bisa Diangkat CPNS 2027? Ini Fakta dan Ketentuannya

Tokoh masyarakat setempat berharap pemerintah tidak membiarkan kondisi tersebut terus berulang.

Ia juga mengajak generasi muda asal Desa Golo Lebo untuk turut menyuarakan persoalan yang dihadapi warga agar mendapat perhatian pemerintah.

"Kami berharap suara kami didengar pemerintah kabupaten maupun provinsi. Kami butuh tindakan nyata," katanya.

Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan instansi teknis terkait untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi geografis wilayah tersebut.

Sejumlah opsi yang diharapkan dapat dikaji antara lain pembangunan jaringan perpipaan air minum, pengeboran air tanah jika kondisi geologis memungkinkan, serta pembangunan bak penampungan yang dapat menjamin ketersediaan air bagi masyarakat.

Baca Juga: Bukan Rp1 Miliar Lagi! KPK Sita Rp1,9 Miliar dalam OTT Bupati Klaten

Namun, penentuan solusi perlu didahului survei teknis untuk memastikan sumber air, kelayakan pembangunan, dan keberlanjutan pengelolaannya.

Dengan demikian, program yang dilaksanakan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi benar-benar menjamin akses air bersih bagi warga.

Pemerintah daerah juga perlu mendata kebutuhan air bagi 48 keluarga dan dua sekolah yang terdampak, sekaligus menetapkan langkah penanganan yang jelas.

Bagi warga Kajuata, kebutuhan tersebut bukan sekadar harapan akan pembangunan fasilitas baru. Mereka membutuhkan akses air bersih yang aman, terjangkau, dan dapat diandalkan tanpa harus menempuh perjalanan jauh melalui medan berbahaya setiap hari.

Hingga berita ini dituunkan, belum ada keterangan dari Pemda Manggarai Timur mengenai langkah konkret untuk mengatasi krisis air bersih di Dusun Kajuata.***

Tags

Terkini