Ada keyakinan bahwa mereka yang pertama menempati kampung itu dan membangunnya, yang mereka sebut Beo Ruteng atau kampung Ruteng.
Pola kampung
Kampung Ruteng memiliki dua rumah adat (Mbaru Niang). Ada yang disebut Mbaru Tambor untuk pele sale, dan ada Mbaru Gendang untuk pele awo. Dalam penelusuran di setiap perkampungan Manggarai, hanya kampung Ruteng yang mempunyai struktur dualistik pada kampungnya dengan dua rumah adat. Di sekitar halaman terdapat Like, susunan bebatuan nan rapih tempat pejalan kaki.
Baca Juga: Wisata Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Terkeren yang Telah Berusia 800 Tahun di Kabupaten Ende
Pada sentrum kampung ada sebuah Compang, semacam sebuah bangunan megalitik yang tersusun atas batu-batu dan menjadi mesbah tempat persembahan. Compang ini yang berbentuk oval ini digunakan juga untuk kuburan para leluhur dan tetua adat yang sudah meninggal. Kampung ini berpola melingkar, dalam bahasa Manggarai di sebut beo.
Beo merupakan kesatuan wilayah genealogis karena didiami oleh mereka yang mempunyai hubungan darah atau keturunan satu sama lain. Beo berasal dari kata bea’o. Bea artinya datar atau rata. Sedangkan bea’o merupakan ucapan untuk menyebut tanah rata atau datar. Semacam sebuah ungkapan bernada kekaguman. Kemudian kata itu disingkat beo, yang artinya kampung.
Ada ungkapan, “ pa’ang’n olo ngaung’n musi agu Beo’n One.” Yang berarti, dari gerbang kampung sampai belakang kampung, dan bagian dalamnya. Ungkapan ini menjadi konsep dasar arti sebuah kampung atau beo.
Penulis: Andre Yuris