Di sektor ekonomi, perempuan aktif mengelola lahan pertanian, berdagang di pasar tradisional, mengolah hasil bumi, serta menjalankan usaha kecil seperti menjahit, membuat anyaman, atau menjual hasil kebun.
Dalam banyak kasus, merekalah yang memastikan stabilitas ekonomi rumah tangga tetap terjaga, terutama ketika laki-laki harus merantau atau bekerja di luar desa.
Dalam urusan sosial dan budaya, perempuan sering menjadi penjaga harmoni. Mereka menjadi tokoh pemersatu dalam keluarga besar, juru damai dalam konflik internal, bahkan penyelamat nilai-nilai adat melalui praktik-praktik keseharian seperti merawat tradisi makan bersama, memberi nasehat adat, atau mempersiapkan ritual adat yang tak bisa berjalan tanpa kehadiran mereka.
Namun, sayangnya, kontribusi ini tidak diikuti dengan pengakuan yang setara dalam ruang formal. Perempuan tetap ditempatkan di “pinggiran” saat adat mengambil keputusan.
Padahal, bila diukur dari peran, tanggung jawab, dan pengaruh sosialnya, perempuan sejatinya pantas mendapat ruang sosial yang lebih terbuka dan adil.
Dengan kata lain, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam masyarakat Manggarai. Mereka adalah penggerak kehidupan, penjaga keberlanjutan budaya, dan mitra sejajar dalam membangun komunitas.
Sudah saatnya peran nyata ini diakui tidak hanya secara informal, tetapi juga diberi tempat dalam struktur sosial dan adat secara lebih adil.
Adat sejatinya bukanlah sesuatu yang kaku dan tak bisa disentuh. Ia adalah sistem nilai yang hidup, tumbuh, dan seharusnya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di Manggarai, adat masih menjadi landasan kuat dalam mengatur kehidupan sosial. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian tafsir adat selama ini telah melanggengkan ketimpangan, terutama dalam hal peran dan posisi perempuan.
Penafsiran adat yang cenderung patriarkal sering kali menempatkan perempuan sebagai pihak yang hanya mendukung dari belakang.
Nilai Adat yang Mendukung Kesetaraan
Sesungguhnya, adat Manggarai memiliki nilai dasar yang dapat dipakai untuk mendorong keterlibatan perempuan.
Dalam lonto leok, semua orang duduk melingkar tanpa kursi khusus, melambangkan kesetaraan. Pepatah adat mengatakan: “Teing hang, teing woja, teing curup, teing cama” yang berarti “semua sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.”
Jika nilai ini dihidupi secara konsisten, maka perempuan juga seharusnya punya hak bicara. Selain itu, banyak cerita rakyat Manggarai menggambarkan perempuan sebagai sosok bijak, bahkan penentu keputusan keluarga.
Misalnya, dalam beberapa legenda lokal, ibu dianggap sebagai penjaga kehidupan sekaligus penasihat keluarga.