Transformasi Peran Gender sebagai Kunci Kesejahteraan Sosial yang Inklusif dan Berkeadilan

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Sabtu, 27 September 2025 | 20:27 WIB
Salusia Marilas Jebaut (Mahasiswa Semester VII Stipas Santo Sirilus Ruteng)
Salusia Marilas Jebaut (Mahasiswa Semester VII Stipas Santo Sirilus Ruteng)

Padahal, ketika peran gender dikotakkan secara sempit, peluang untuk menciptakan masyarakat yang inklusif menjadi terhambat.

Laki-laki dan perempuan, serta individu non-biner dan kelompok gender minoritas lainnya, memiliki potensi, keunikan, dan perspektif yang berada namun saling melengkapi dan memajukan masyarakat.

Pengakuan terhadap keragaman ini adalah langkah awal menuju inklusi sosial yang sejati.

Meski banyak kemajuan yang telah dicapai dalam beberapa decade terakhir, ketimpangan gender masih menadi isu yang nyata diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Laporan UN Women dan World economic Forum secara konsisten menunjukkan bahwa perempuan masih tertinggal dalam kasus terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan yang layak, dan representasi dalam politik.

Sebagai contoh perempuan seringkali menerima upah yang lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang setara.

Disektor informal, perempuan juga lebih rentan terhadap eksploitasi dan tidak memiliki perlindungan social yang memadai.

Dalam ranah pengambilan keputusan, keterwakilan perempuan masih rendah di parlemen maupun dalam posisi strategis pemerintahan dan bisnis.

Sementara itu, kelompok gender non-biner dan LGBTQ+ menghadapi diskriminasi berlapis, baik dalam bentuk sosial, hukum, maupun kekerasan.

Mereka seringkali disingkirkan dari diskusi public, dianggap tabu, atau bahkan dikriminalisasi hanya karena identitas mereka.

Untuk membangun dunia yang inklusif, kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap peran gender.

Inklusi sosial berarti menciptakan ruang dimana smua individu dapat berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan politik tanpa hambatan berdasarkan gender.

Kesetaraan gender bukan hanya soal perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.

Ini juga tentang membebaskan laki-laki dari tekanan peran maskulinitas yang beracun, serta membuka ruang aman dan pengakuan bagi orang-orang dengan identitas gender yang beragam.

Pendidikan menjadi alat utama dalam perubahan ini. Ketika anak-anak diajarkan sejak dini bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk bermimpi, berbicara, memimpin, dan membuat pilihan hidup, terlepas dari jenis kelamin mereka, maka akar dari diskriminasi perlahan akan terkikis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X