Oleh: Angelus Durma, Editor Obor Timur
idenusantara.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dirancang sebagai jawaban atas persoalan gizi anak sekolah dan ketimpangan akses pangan sehat.
Ia bukan sekadar program bantuan makanan, melainkan investasi negara pada kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, setiap detail pelaksanaannya; dari standar menu, porsi gizi, hingga tata kelola dapur semestinya berada dalam pengawasan ketat.
Kasus yang mencuat di SMP Negeri 12 Borong di Manggarai Timur, NTT memperlihatkan bagaimana sebuah program besar bisa diuji oleh hal yang tampak sederhana: satu porsi makanan di atas baki.
Unggahan resmi sekolah yang menampilkan menu MBG hari ke-8 memicu reaksi luas masyarakat. Dalam foto yang beredar, terlihat ubi talas sebagai sumber karbohidrat, lauk ayam goreng dan tempe, tumis daun singkong, serta buah rambutan.
Baca Juga: Ilusi Aman di Balik Dapur MBG: Saat APBN Jadi Jaminan Bancakan, Bukan Kesejahteraan
Secara kasat mata, menu ini memang mengandung unsur karbohidrat, protein, dan vitamin. Namun pertanyaan publik bukan semata soal ada atau tidaknya unsur gizi, melainkan soal standar, kecukupan, dan konsistensi kualitas.
Reaksi warganet yang mempertanyakan SOP gizi, takaran porsi, hingga kompetensi penyusun menu menunjukkan satu hal penting, yakni kesadaran publik terhadap isu gizi anak semakin tinggi. Ini perkembangan positif. Masyarakat tidak lagi pasif menerima program, tetapi aktif mengawasi.
Masalahnya, respons publik itu muncul karena ruang informasi tidak diisi secara terbuka oleh pengelola program.
Hingga kini, dapur MBG yang diduga memasok menu tersebut belum memberi klarifikasi resmi kepada publik. Padahal, dalam program berbasis anggaran negara, transparansi bukan pilihan moral, melainkan kewajiban administratif dan etis.
MBG menyentuh tiga wilayah sensitif sekaligus, dari hak anak, uang negara, hingga kepercayaan publik. Jika salah satu goyah, program secara keseluruhan ikut terdampak.
Baca Juga: Habiskan Rp 1,5 Miliar untuk Dapur MBG, Bangunan Sudah Berdiri Tapi Tak Bisa Beroperasi
Secara prinsip gizi, anak usia sekolah membutuhkan asupan seimbang, karbohidrat sebagai energi utama tentunya. Kemudian protein untuk pertumbuhan, serta vitamin dan mineral untuk daya tahan tubuh dan perkembangan kognitif.
Artikel Terkait
Habiskan Rp 1,5 Miliar untuk Dapur MBG, Bangunan Sudah Berdiri Tapi Tak Bisa Beroperasi
Ilusi "Aman" di Balik Dapur MBG: Saat APBN Jadi Jaminan Bancakan, Bukan Kesejahteraan