Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB
Ilustrasi Pers (Foto: Ist. WCKS)
Ilustrasi Pers (Foto: Ist. WCKS)

Padahal jurnalisme bukan soal citra diri. Jurnalisme adalah soal keberanian menanyakan hal yang tidak populer.

Lalu rakyat. Ini bagian yang paling sensitif. Setiap kali saya bilang bahwa rakyat juga bisa salah, biasanya ada yang tersinggung. Padahal saya ini juga rakyat. Saya hidup di tengah rakyat. Saya tahu betul, rakyat itu manusia. Bisa mulia, bisa juga culas. Bisa korban, bisa juga pelaku.

Ketika ada kekerasan massal, hoaks kolektif, persekusi, atau pembenaran kebencian atas nama mayoritas, media sering memilih aman. Framing-nya dilembutkan. Tanggung jawab individual dikaburkan. Semua dipindahkan ke struktur, sistem, atau provokasi elite. Struktur memang penting, tapi menghapus agensi individu juga bentuk ketidakjujuran.

Hannah Arendt, dalam Eichmann in Jerusalem, memperingatkan tentang banalitas kejahatan. Kejahatan tidak selalu lahir dari niat jahat yang besar, tapi dari kepatuhan, kebiasaan, dan pembiaran. Jika media selalu memposisikan rakyat hanya sebagai korban tanpa tanggung jawab moral, media sedang ikut membiakkan banalitas itu.

Jadi kembali ke pertanyaan awal. Apakah jurnalis seperti itu adil sejak dalam pikiran?

Jawaban saya pahit. Tidak sepenuhnya.

Adil itu bukan soal siapa yang dikritik, tapi konsistensi standar. Kalau klaim pemerintah harus diuji, klaim korporasi juga harus diuji. Kalau narasi negara harus diverifikasi, narasi media dan LSM juga harus diverifikasi. Kalau tindakan aparat dikuliti, tindakan massa juga harus dikuliti. Tanpa kecuali. Tanpa rasa sungkan.

Baca Juga: Tragedi di Ujung Bambu: Ketika Negara Memberi Receh, Sekolah Justru Mencekik Jutaan

Independensi bukan berarti selalu berseberangan dengan negara. Independensi berarti tidak berutang pikiran pada siapa pun. Tidak pada kekuasaan, tidak pada modal, tidak pada moralitas instan, tidak pada likes, tidak pada tepuk tangan warganet.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menulis dalam The Elements of Journalism bahwa loyalitas utama jurnalisme adalah kepada warga, bukan kepada institusi, bukan kepada narasi tertentu. Tapi warga itu bukan anak kecil yang harus selalu dibela. Warga adalah manusia dewasa yang juga perlu dihadapkan pada cermin.

Kalau jurnalis hanya keras kepada pemerintah dan lembek kepada yang lain, itu bukan keberanian. Itu pilihan aman yang dibungkus idealisme.

Saya sudah terlalu tua untuk ikut berteriak slogan. Saya lebih percaya pada kerja sunyi. Bertanya pada semua pihak dengan nada yang sama. Mencatat dengan sabar. Menulis tanpa takut dicap. Tidak silau dengan pujian oposisi, tidak gentar dengan amarah penguasa.

Kopi saya sudah dingin saat saya menuliskan senandika ini. Tapi satu hal masih hangat di kepala. Jurnalisme yang adil tidak lahir dari jawaban-jawaban pintar di media sosial, podcast, atau di seminar. Ia lahir dari keberanian untuk tidak memilih sasaran kritik berdasarkan siapa yang paling mudah diserang. Dan itu, sayangnya, makin langka.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X