Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB
Ilustrasi saat wartawan bertanya pada narasumber (Foto:MS)
Ilustrasi saat wartawan bertanya pada narasumber (Foto:MS)

 

 

OPINI-Idenusantara.com|| Saya mendapatkan wejangan itu dari wartawan senior Sumatra Barat, H. Fachrul Rasyid, ketika pertama kali saya menjadi wartawan di sebuah koran harian tertua di Padang pada awal tahun 2000-an. Dia bilang, “Wartawan harus tahu dulu baru bertanya.”

Artinya, sebelum mewawancarai narasumber, siapa pun itu, seorang wartawan harus mengisi dirinya dengan berbagai macam pengetahuan terkait topik yang akan ia gali sebelum ia menuliskannya. Dengan begitu, wartawan harus riset, membongkar referensi, membaca sebanyak mungkin, lalu menyiapkan daftar pertanyaan kunci yang akan ia ajukan. Daftar itu tidak harus tertulis, tetapi konsepnya telah bersarang di kepala.

Baca Juga: Dipecat Sepihak, Dituduh Mencuri: Mantan Relawan SPPG Wae Ri’i Seret Kepala Dapur ke Polisi

Seorang wartawan tidak boleh “kosong” saat mendatangi narasumber. Ia harus “berisi” dengan semua yang disebutkan tadi sehingga, saat melakukan wawancara, ia tidak seperti orang bingung yang tidak menguasai persoalan.

Dan yang paling penting, wartawan mengenal siapa narasumber yang diwawancarainya. Mengenal, dalam arti tidak harus dekat seperti dua sahabat, tetapi memahami latar belakangnya, apa posisinya, apa kepentingannya, bagaimana rekam jejaknya, serta dalam konteks apa ia berbicara. Sebab, setiap jawaban narasumber tidak pernah benar-benar berdiri di ruang hampa. Pasti selalu ada kepentingan, perspektif, bahkan bias yang menyertainya.

Di titik inilah wawancara menjadi lebih dari sekadar tanya jawab. Ia adalah kerja intelektual sekaligus kerja etik. Wartawan bukanlah interogator seperti penyidik di kepolisian yang mengejar pengakuan tersangka. Wartawan tidak bertugas “memojokkan” narasumber dengan pertanyaan menjebak, melainkan membuka ruang agar informasi mengalir jernih, utuh, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Anggaran Pupuk Cair Namun Barang Nihil, Kades Lando 'Dionysius Madas' Diduga Telip Anggaran Rp49 Juta

Teknik wawancara yang baik, karena itu, tidak semata soal daftar pertanyaan, tetapi juga tentang sikap. Cara bertanya, intonasi suara, pilihan kata, hingga bahasa tubuh, semuanya menentukan kualitas jawaban yang diperoleh. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang lahir dari pengetahuan, bukan dari ketidaktahuan. Ia tajam, tetapi tidak kasar. Kritis, tetapi tetap beretika.

Prinsip yang lebih elegan disebut sebagai “cerdas tidak menggurui, tajam tidak melukai”.

Dalam praktiknya, seorang wartawan kerap menghadapi situasi yang tidak ideal. Narasumber bisa saja memberikan jawaban yang keliru, tidak lengkap, bahkan menyesatkan. Di sinilah disiplin jurnalistik diuji. Wartawan tidak boleh serta-merta memotong atau membantah narasumber di tempat. Tugasnya adalah mencatat, seteliti mungkin, apa pun yang dikatakan. Catat saja. Simpan sebagai data.

Baca Juga: Cerita Pilu Donatus Ruek di Gubuk Reyot yang Merindukan Kehadiran Pemerintah

Namun, pekerjaan wartawan tidak berhenti di situ. Setelah wawancara selesai, proses verifikasi harus berjalan. Pernyataan yang diragukan perlu dibandingkan dengan data lain, dokumen, atau narasumber tambahan. Prinsip “cover both sides”, bahkan “cover all sides”, menjadi penting agar tulisan tidak berat sebelah. Terutama dalam liputan investigatif, di mana kebenaran sering tersembunyi di balik lapisan kepentingan, wartawan dituntut lebih sabar, lebih teliti, dan lebih tahan godaan untuk tergesa-gesa menyimpulkan.

Berita yang baik bukan hanya cepat, tetapi juga akurat dan berimbang. Kecepatan tanpa akurasi adalah kabar angin. Sementara akurasi tanpa keberimbangan adalah propaganda terselubung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X