Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)
IDENUSANTARA.COM - Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan berbasis listrik mulai dilakukan oleh berbagai negara. Negara Indonesia pun tak ingin ketinggalan untuk ikut serta dalam hal ini yang ditujukan untuk mengurangi emisi gas.
Berbagai upaya pun dilakukan, salah satunya dengan memberikan insentif untuk impor mobil listrik Completely Build Up (CBU) berbasis baterai. Setelah sebelumnya memberi insentif berupa penyesuaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40%, juga pemotongan pajak PPN sebesar 10%. (cnbcindonesia.com 18/8/2023)
Kebijakan Pilih Kasih
Kebijakan ini mengundang banyak pro dan kontra dari masyarakat mengenai urgensinya. Pasalnya pengguna kendaraan bermotor merupakan masyarakat kelas menengah ke atas, itu artinya disini masyarakat mampu lah yang diperhatikan.
Sebelumnya negara pun sudah mengeluarkan kocek cukup dalam untuk pengadaan kendaraan berbasis listrik bagi para ASN. Sedangkan hingga sekarang, masyarakat miskin belum tersentuh perhatian pemerintah.
Hal ini tentu menunjukkan arah keberpihakan pemerintah yang terkesan 'pilih kasih', karena kebijakan-kebijakannya lebih banyak memerhatikan pengusaha dan orang kaya. Selain itu negara seakan abai pada permasalahan transportasi yang lebih kompleks.
Misalnya saja kemacetan yang kerap kali terjadi hingga kebutuhan akan transportasi jarak jauh, dan permasalahan lainnya. Apakah hal ini tidak lebih penting dibandingkan peralihan ke kendaraan berbasis listrik?
Mengkambinghitamkan Polusi
Polusi menjadi salah satu alasan pemerintah ingin mempercepat peralihan menuju kendaraan berbasis listrik dengan berbagai insentif. Namun efektifkah kebijakan tersebut untuk memperbaiki kualitas udara?
Kendaraan listrik bisa dibilang hanya solusi palsu karena sejatinya polusi udara disebabkan berbagai faktor, jadi tidak cukup hanya memperbaiki salah satu penyebab saja karena diperlukan pula perbaikan pada aspek lainnya.
Misalnya saja industri yang juga menyumbang polusi udara terbanyak, tentu hal ini juga bertanggungjawab atas kondisi yang ada. Artinya perlu juga mencari pemecahan masalah dari polusi yang dihasilkan industri ini.
Yang Kaya Yang Dibela