Opini oleh Salusia Marilas Jebaut (Mahasiswa Semester VII Stipas Santo Sirilus Ruteng)
Ruteng, Idenusantara.com - Ditengah dinamika global yang semakin kompleks, inklusi sosial telah menjadi salah satu nilai utama dalam membangun masyarakat yang beradab dan berkeadilan.
Inklusi tidak hanya berbicara tentang akses terhadap layanan dan sumber daya, tetapi juga tentang pengakuan atas keberagaman identitas, peran, dan kontribusi setiap individu, termasuk yang berkaitan dengan gender.
Peran gender dalam membangun dunia yang inklusif adalah krusial untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang adil.
Inklusivitas berarti mengakui dan menghargai keberagaman individu, tanpa memandang jenis kelamin, orientasi seksual, atau identitas gender.
Masyarakat yang adil tidak dapat terwujud jika sebagian dari populasinya, yaitu perempuan, masih menghadapi diskriminasi dan hambatan dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi politik.
Kesetaraan gender bukan hanya masalah hak asasi manusia, tetapi juga pendorong utama pembangunan ekonomi dan sosial.
Ketika perempuan diberdayakan, mereka berkontribusi lebih besar pada pertumbuhan ekonomi, kesehatan keluarga, dan pendidikan anak-anak.
Harapan untuk memajukan kesejahteraan masyarakat yang adil yang terletak pada penghapusan stereotip gender yang membatasi potensi individu dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang untuk berkembang sepenuhnya.
Hal ini memerlukan perubahan structural dan budaya, termasuk kebijakan yang mendukung pemotongan orangtua yang setara, upah yang adil untuk pekerjaan yang setara, dan representasi yang seimbang dalam kepemimpinan.
Dalam konteks ini, peran gender juga sangat penting, karena persepsi dan struktur sosial yang berkaitan dengan gender selama ini telah memengaruhi siapa yang diberi kesempatan,
Siapa yang didengar, dan siapa yang dimarginalkan.
Peran gender adalah seperangkat harapan, norma dan perilaku yang dilekatkan pada individu berdasarkan pada jenis kelamin mereka.
Dalam banyak budaya, laki-laki cenderung diasosiasikan dengan peran kepemimpinan, kekuatan, dan pengambilan keputusan, sementara perempuan lebih diarahkan ke peran pengasuhan, emosional, atau domestik.
Konsep ini sudah mulai bergeser, tetapi masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mampu melepaskan diri dari konstruksi tradisional tersebut.