opini

Tragedi Ngada; ”Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita"

Kamis, 5 Februari 2026 | 06:14 WIB
Ilustrasi anak frustrasi hingga bu**h diri dan sepucuk surat yang ditinggalkannya (Foto:Ist.net)

Kita juga perlu jujur ​​mengakui bahwa masih banyak anak Indonesia yang bersekolah sambil memikul beban orang dewasa: kemiskinan, rasa bersalah kepada orang tua, dan ketakutan menjadi beban keluarga. Dalam situasi seperti itu, kalimat “pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan” bisa terdengar kontras dan ironis, bahkan menyakitkan, jika jalan itu sendiri penuh lubang tanpa pegangan.

Esai ini tidak sedang menghakimi bahwa sekolah telah gagal atau orang tua telah lalai. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat betapa rapuhnya anak-anak kita ketika sistem terlalu yakin bahwa semua murid berdiri di “garis start” yang sama. Saat buku tulis dianggap hal sepele, kita lupa bahwa bagi sebagian keluarga, ia adalah kemewahan yang harus dipilih di antara kebutuhan perut yang juga mendesak.

Baca Juga: Nama Frans Sarong Dicatut Terkait Proyek, IKMR Kupang Bela dan Pasang Badan

Pertanyaannya, berapa banyak guru yang tidak hanya menunggu di gerbang sekolah atau di muka kelas, tetapi juga mau menyediakan waktu mengunjungi rumah-rumah muridnya untuk melihat seperti apa kehidupan anak-anak yang mereka didik?

Namun, kondisi ini pun berdiri di atas kontradiksi yang getir; Ketika kesejahteraan guru belum sepenuhnya dikatakan baik, sementara beban administrasi yang kian menumpuk menyebabkan mereka kehabisan waktu dan energi untuk sekedar berpaling pada sisi humanis pendidikan. Guru dipaksa menjadi teknokrat laporan, hingga sering kali kehilangan ruang gerak untuk menjadi pendamping jiwa bagi murid-muridnya.

Literasi yang berkeadilan seharusnya peka pada konteks. Ia tidak hanya mengajarkan anak mengeja kalimat, tetapi juga menuntut kita untuk mampu “membaca” kondisi anak dan keluarganya. Ia tidak hanya memastikan anak siap belajar, tetapi mereka memiliki sarana, dukungan, dan rasa aman untuk tumbuh.

Baca Juga: Tragedi KLM Putri Sakinah di Labuan Bajo, Polres Mabar Limpahkan Berkas Tahap Satu ke Kejaksaan

Literasi yang manusiawi adalah literasi yang tidak mempermalukan kekurangan dan tidak mengukur nilai seorang anak dari kelengkapan alat sekolahnya.

Tragedi YBR seharusnya menjadi cermin, bukan palu. Sebuah cermin untuk merefleksikan apakah selama ini kita terlalu sibuk mengejar target, angka, dan pencapaian formalitas, hingga lupa mendengar suara paling hening di pojok kelas. Suara anak-anak yang tidak berteriak, namun memikul beban yang terlalu berat bagi bahu kecil mereka.

Kita memang tidak bisa mengubah peristiwa yang sudah berlalu. Namun, kita bisa mengubah cara kita memaknainya, dengan menghadirkan literasi yang lebih berempati dan lebih manusiawi. Literasi yang tidak hanya mengobarkan pikiran untuk mengejar target prestasi dan prestise, tetapi juga menjaga fondasi paling krusial: empati.

Baca Juga: Kemiskinan Akibat Kebijakan Negara

Tujuan tertinggi pendidikan bukan hanya membuat anak pandai membaca dan menulis, melainkan memastikan tidak ada satupun anak yang merasa hidupnya terlalu tersisih hingga tak lagi punya alasan untuk bertahan.

Sudah saatnya kita berhenti berhenti dari balapan statistik dan mulai membasuh luka yang tak kasat mata. Pendidikan harus kembali pada fitrahnya sebagai pembebas, bukan pemberi beban yang justru mematikan harapan sebelum ia sempat mekar. Jangan biarkan ada lagi anak yang harus “pergi” hanya karena merasa tidak memiliki “tiket” untuk sekedar duduk di bangku kelas yang impikan mereka.

Ke depan, marilah kita tuliskan bab baru dalam dunia pendidikan kita; sebuah bab yang mengutamakan kemanusiaan di atas administrasi. Sebab, apalah artinya mencetak generasi yang mahir mengeja, jika kita sendiri gagal membaca kebetulan di balik diamnya seorang murid. Bagaimanapun juga, buku tulis yang kosong bisa diisi dengan ilmu, namun nyawa yang hilang tidak akan pernah bisa digantikan oleh tumpukan piagam maupun angka-angka izin yang sempurna, sehebat apa pun mencapai itu.

(Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis) 

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB