opini

Nyawa di Ujung Pena: Ketika "Centang Biru" Bansos Tak Mampu Menahan Putus Asa Bocah 10 Tahun

Jumat, 6 Februari 2026 | 07:22 WIB
Nyawa di Ujung Pena (Foto:Ilustrasi LM)

Beban Mental di Pundak Kecil

Kasus YBR membuka mata kita bahwa kemiskinan bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan teror mental. Bagi orang dewasa, tidak punya uang adalah masalah pusing kepala. Tapi bagi anak SD usia 10 tahun, tidak punya buku saat teman-teman lain sedang belajar adalah rasa malu yang menghancurkan harga diri.

Surat terakhir YBR kepada ibunya menunjukkan kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan. Ia paham ibunya tidak punya uang. Ia tidak ingin menyusahkan. Dalam logika anak-anaknya yang polos namun tragis, "pergi" adalah solusi agar beban ibunya berkurang.

Baca Juga: Resmi Dilantik Jadi Hakim MK Oleh Presiden, Adies Kadir Tegaskan Tak Tangani Perkara Golkar

Status "Penerima PIP" pada akhirnya hanyalah status administratif di atas kertas. Label itu tidak bisa digadaikan di warung untuk sebatang pena saat dibutuhkan.

Kematian YBS adalah alarm bahaya. Bahwa bantuan sosial yang nominalnya "sekadar cukup untuk bertahan hidup" tidaklah cukup untuk membesarkan harapan. Negara berhasil mengirimkan uang, tapi negara gagal mengirimkan rasa aman.

Selamat jalan, Adik. Maafkan kami yang membuat harga sebuah pena terasa begitu mahal hingga harus ditebus dengan nyawa.(Lhyna Marlina) 

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB