Beban Mental di Pundak Kecil
Kasus YBR membuka mata kita bahwa kemiskinan bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan teror mental. Bagi orang dewasa, tidak punya uang adalah masalah pusing kepala. Tapi bagi anak SD usia 10 tahun, tidak punya buku saat teman-teman lain sedang belajar adalah rasa malu yang menghancurkan harga diri.
Surat terakhir YBR kepada ibunya menunjukkan kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan. Ia paham ibunya tidak punya uang. Ia tidak ingin menyusahkan. Dalam logika anak-anaknya yang polos namun tragis, "pergi" adalah solusi agar beban ibunya berkurang.
Baca Juga: Resmi Dilantik Jadi Hakim MK Oleh Presiden, Adies Kadir Tegaskan Tak Tangani Perkara Golkar
Status "Penerima PIP" pada akhirnya hanyalah status administratif di atas kertas. Label itu tidak bisa digadaikan di warung untuk sebatang pena saat dibutuhkan.
Kematian YBS adalah alarm bahaya. Bahwa bantuan sosial yang nominalnya "sekadar cukup untuk bertahan hidup" tidaklah cukup untuk membesarkan harapan. Negara berhasil mengirimkan uang, tapi negara gagal mengirimkan rasa aman.
Selamat jalan, Adik. Maafkan kami yang membuat harga sebuah pena terasa begitu mahal hingga harus ditebus dengan nyawa.(Lhyna Marlina)