Dalam konteks pemberitaan peristiwa, seperti kecelakaan atau bencana, tantangan lain muncul. Sering kali media berlomba menjadi yang pertama menyampaikan kabar. Tetapi setelah berita awal terbit, perhatian pun cepat beralih ke isu lain. Padahal, bagi pembaca, dan terutama bagi korban, cerita belum selesai.
Di sinilah wartawan dituntut untuk tidak berhenti pada peristiwa pertama. Publik tidak hanya membutuhkan informasi tentang “apa yang terjadi”, tetapi juga “apa yang terjadi setelahnya”. Bagaimana kondisi korban hari ini? Apakah bantuan sudah sampai? Apa langkah pemerintah? Adakah kelalaian yang harus diusut? Apakah ada kebijakan yang berubah setelah peristiwa itu?
Jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang mengikuti jejak peristiwa hingga tuntas, bukan sekadar memungut sensasinya di awal lalu meninggalkannya begitu saja. Wartawan harus hadir sebagai pengingat, sebagai penghubung antara fakta dan kepentingan publik yang lebih luas.
Baca Juga: Potret Buruk Proyek Dampingan Jaksa di Pedalaman NTT Milik BUMN PT Adhi Karya Sebesar Rp147.1 Miliar
Kembali ke wejangan Bang Haji—demikian saya akrab menyapa beliau—, “Wartawan harus tahu dulu baru bertanya,” sesungguhnya terkandung filosofi kerja jurnalistik yang mendalam. Mengetahui berarti membaca, mendengar, dan memahami. Bertanya berarti menggali, menguji, dan mengonfirmasi. Di antara keduanya ada tanggung jawab besar: menyajikan kebenaran yang tidak sekadar benar, tetapi juga adil.
Dalam dunia yang kini dipenuhi arus informasi serba cepat, godaan untuk menjadi sekadar penyampai pernyataan semakin besar. Wartawan mudah terjebak menjadi corong, bukan pengolah. Padahal, esensi profesi ini justru terletak pada kemampuannya menyaring, memeriksa, dan menyusun fakta menjadi informasi yang bernas.
Seorang wartawan bukan hanya penanya. Ia adalah pembaca yang tekun, pendengar yang sabar, pencatat yang jujur, dan penulis yang bertanggung jawab. Ia tidak boleh kosong, karena dari dirinya lahir kepercayaan publik.
Dan kepercayaan itu, sekali retak, tak mudah disambung kembali. (MUHAMMAD SUBHAN)