pariwisata

Pengembangan Pariwisata Labuan Bajo: Antara Pesona Bahari dan Tantangan Industri Kreatif Lokal

Rabu, 1 April 2026 | 16:22 WIB
Kolaborasi strategis antara Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo dan Mawatu Labuan Bajo melahirkan ruang diskusi hangat bertajuk "Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia" (Foto:Dok.RRI)

Idenusantara.com-Kolaborasi strategis antara Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo dan Mawatu Labuan Bajo melahirkan ruang diskusi hangat bertajuk "Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia" yang berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026, di Kawasan Mawatu Labuan Babi, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Acara ini menghadirkan para pemangku kebijakan dan pelaku industri kreatif untuk membedah masa depan pariwisata, seni lokal, dan ekonomi kreatif di destinasi super prioritas Labuan Bajo. Diskusi ini menyoroti ketimpangan antara popularitas wisata bahari yang mendominasi dan perlunya penguatan sektor wisata darat serta keterlibatan nyata masyarakat lokal dalam ekosistem pariwisata premium.

Baca Juga: Kematian Sadis Restina Tija Tanpa Jawaban, PMKRI Ruteng: Polres Manggarai Gagal Lindungi Rakyat Kecil

Sinergi Kebijakan dan Tata Kelola Kompleks

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Drs. Fransiskus Sales Sodo, menekankan bahwa mengelola Labuan Bajo memerlukan sinkronisasi kebijakan yang intensif karena ekosistemnya yang kompleks.

"Pariwisata Labuan Bajo adalah ekosistem yang sangat kompleks, terutama dengan adanya Taman Nasional Komodo. Saat ini, sekitar 95% kunjungan wisatawan masih terpusat di laut, dengan proporsi wisatawan asing mencapai 78%. Kami sedang menyusun aplikasi SIORA yang diintegrasikan dengan aplikasi daerah 'Gendang Mabar' untuk memperbaiki sistem reservasi dan pengawasan, agar ada konsolidasi antara regulasi dan implementasi di lapangan,"ujar Fransiskus Sodo.

Diversifikasi Produk dan Keberlanjutan

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andi MT Marpaung, menyampaikan kebanggaannya atas penobatan TN Komodo sebagai tempat terindah nomor dua di dunia oleh majalah Time Out. Namun, ia juga memperingatkan risiko kejenuhan wisatawan jika hanya mengandalkan alam.

Baca Juga: Sampaikan Kritik Tajam ke Pemda dan OPD Manggarai Timur, Rikard Persly: Urus Daerah Bukan Urus Soal Like and Dislike


"Kita harus mendorong diversifikasi produk agar tidak hanya berbasis bahari. Budaya dan kearifan lokal harus dinaikkan sebagai pembeda. Kami melalui program seperti 'Wikenet Parapuar' terus membina sanggar seni dan UMKM agar mereka memiliki panggung rutin dan bisa mandiri secara bisnis (B2B) dengan hotel atau restoran, bukan sekadar bergantung pada bantuan pemerintah," kata Andi.

Suara Pelaku Industri Kreatif: Butuh Ruang dan Kepercayaan

Pelaku UMKM kreatif dan pemilik Komabi, Rino, menyatakan bahwa selama ini mereka masih merasa sebagai pelengkap di tengah pembangunan yang bombastis.


"Kami berusaha mengimbangi kebijakan pemerintah dengan melahirkan karya otentik seperti konten budaya dan bahasa Manggarai di produk kami. Namun, kami butuh pendampingan langsung, regulasi yang mewajibkan penggunaan produk lokal di hotel-hotel, serta standarisasi harga agar UMKM lokal tidak kalah bersaing," ungkap Rino.

Senada dengan hal tersebut, Suci Maria, seorang influencer lokal, menyoroti pentingnya storytelling dalam promosi digital.

Halaman:

Tags

Terkini

Sejarah Danau Rana Mese di Manggarai Timur NTT

Kamis, 3 April 2025 | 18:46 WIB

Mengenal Air Terjun Terbesar di Dunia

Kamis, 3 April 2025 | 10:57 WIB