Indonesia Tak Lagi Impor Beras, Presiden Jokowi Terima Penghargaan dari IRRI

photo author
Pay K, Ide Nusantara
- Senin, 15 Agustus 2022 | 07:00 WIB
Indonesia Tak Lagi Impor Beras, Presiden Jokowi Terima Penghargaan dari IRRI (Dokumen Twitter @Jokowi)
Indonesia Tak Lagi Impor Beras, Presiden Jokowi Terima Penghargaan dari IRRI (Dokumen Twitter @Jokowi)

IDENUSANTARA.COM - Lembaga Internasional IRRI (International Rice Research Institute), menganugerahkan penghargaan kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo untuk sistem pertanian-pangan tangguh dan swasembada beras dalam tiga tahun terakhir. IRRI merupakan lembaga riset yang mengkonsentrasikan pada komoditas padi, berkantor pusat di Filipina. 
 
Penghargaan ini diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, oleh Director General IRRI, Jean Balié, Jumat (12/8/2022). Indonesia dinilai memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan sudah berswasembada pangan.Berlangsung di Istana Kepresidenan, penyerahan disaksikan oleh FAO, Kementerian Pertanian RI, gubernur, bupati, rektor IPB, hingga asosiasi pertanian.

Infrastuktur yang didorong sejak 2015 menjadi andilnya. Ini termasuk dibangunnya 29 bendungan besar dan 1.2 juta jaringan irigasi. Angka infrastruktur ini terus meningkat, berkaitan dengan target Jokowi lainnya, yakni stop impor jagung dalam 2-3 tahun mendatang dan pengambilan peran Indonesia sebagai pengekspor beras. 

Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan terima kasih terbesar kepada para pekerja di sawah, bupati, gubernur, hingga Kementan yang bekerjasama dengan riset-riset di univesitas. Ini disebutnya pekerjaan yang terintegrasi dan bukan hanya milik kementerian saja. 
 
Sesuai data BPS (Badan Pusat Statistik), stok beras nasional per April 2022 mencapai 10,2 juta ton. 

Seiring, program diversifikasi juga dijalankan. Saat ini, Indonesia terus melakukan penanaman sorgum sebagai subtitusi pengganti gandum. 
 
"Diversifikasi pangan, hati-hati... Tidak hanya tergantung pada beras, tetapi harus kita mulai juga untuk jenis-jenis bahan pangan yang lainnya. Kita sudah mulai kemarin di Waingapo, sorgum. Di NTT, sorghum. Kemudian di beberapa provinsi, jagung juga yang dulu besar-besaran harus impor 3,5 juta ton 7 tahun lalu, hari ini kita hanya impor kira-kira 800 ribu ton," jelasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Pay K

Tags

Rekomendasi

Terkini

X