"Kami menyadari bahwa kebutuhan sekolah berubah sangat cepat. Sekarang bukan lagi soal papan tulis dan kapur, tetapi papan interaktif, media digital, dan pembelajaran berbasis teknologi. Kalau kurikulum tidak berubah, lulusan kita akan tertinggal," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa hasil tracer study menunjukkan tuntutan kuat akan penguasaan teknologi digital dan kecerdasan buatan, pengembangan media ajar digital, serta kemampuan sosial dan komunikasi yang lebih matang.
Dalam sesi diskusi, para guru dari sekolah mitra secara terbuka menyampaikan pengalaman mereka terhadap alumni Prodi Pendidikan Matematika. Mereka menilai bahwa secara akademik lulusan cukup kuat, namun masih diperlukan penguatan pada aspek pedagogik praktis, kemampuan bersosialisasi di lingkungan sekolah, public speaking, serta keberanian tampil dan berkomunikasi di depan kelas dan masyarakat. Masukan ini, menurut Ketua Prodi, menjadi cermin yang sangat berharga.
"Forum seperti ini mungkin satu-satunya ruang di mana alumni, guru, dan mahasiswa bisa jujur menyampaikan apa yang selama ini tidak terucap. Dan sebagai pengelola prodi, kami wajib menerima itu sebagai bahan refleksi," katanya.
Ia menegaskan bahwa ke depan, mata kuliah terkait public speaking, microteaching, praktik lapangan, serta penguasaan materi SMP dan SMA akan diperkuat dan ditempatkan lebih awal dalam struktur kurikulum.
Ia juga menyoroti rencana perubahan pola magang mahasiswa. Jika sebelumnya magang dilakukan sambil kuliah dengan durasi terbatas, ke depan magang akan dirancang lebih fokus dan mendalam agar mahasiswa benar-benar mengalami dinamika sekolah secara utuh.
"Kami ingin mahasiswa tidak hanya datang mengajar, tetapi juga belajar bersosialisasi dengan guru, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah," tambahnya.
Lokakarya ini, menurut Dr. Maximus, bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari perjalanan panjang transformasi kurikulum.
"Setelah kurikulum baru dirumuskan dan diimplementasikan, evaluasi akan terus dilakukan secara berkala agar kurikulum tetap responsif terhadap perkembangan zaman," tuturnya.
Ia juga menegaskan komitmen untuk terus melibatkan media, sekolah, alumni, dan mahasiswa sebagai mitra strategis dalam membesarkan Program Studi Pendidikan Matematika.
Dengan pendekatan OBE yang diperkaya etnomatematika, teknologi digital, dan kecerdasan buatan, Unika Santu Paulus Ruteng menegaskan posisinya sebagai kampus yang tidak sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi aktif menyiapkan guru matematika masa depan yang kritis, adaptif, humanis, dan berdaya saing. Transformasi kurikulum ini menjadi pesan kuat bahwa pendidikan matematika harus terus bergerak, berpijak pada realitas, dan berorientasi pada masa depan.(*)