Pemuda Manggarai di Bali Kutuk Pelecehan Seksual di Kampus Katolik: 'Ini Pengkhianatan terhadap Martabat dan Iman'

photo author
Gordianus Jamat, Ide Nusantara
- Sabtu, 29 November 2025 | 21:03 WIB
Tokoh pemuda Manggarai-Bali, I Putu Agus Karsha Saskara Putra S.Kom mengecam keras dugaan pelecehan oleh oknum dosen dan Imam Katolik kepada Mahasiswi.  (Dok. Ide Nusantara/ Gordi Jamat)
Tokoh pemuda Manggarai-Bali, I Putu Agus Karsha Saskara Putra S.Kom mengecam keras dugaan pelecehan oleh oknum dosen dan Imam Katolik kepada Mahasiswi. (Dok. Ide Nusantara/ Gordi Jamat)

IDENUSANTARA.COM - Gelombang kecaman keras datang dari komunitas muda Manggarai di Bali menyusul terungkapnya dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang oknum dosen sekaligus imam di lingkungan Kampus universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng. Kasus ini memicu kemarahan moral dan kegelisahan intelektual karena terjadi di dalam institusi yang selama ini dipercaya sebagai ruang suci pendidikan dan pembinaan karakter.

Seorang pemuda Manggarai yang juga mahasiswa di Bali, I Putu Agus Karsha Saskara Putra S.Kom, menyampaikan pernyataan sikap yang berisi kritik tajam dan penuh perenungan. 

Ia menyebut peristiwa ini sebagai "pengkhianatan filosofis terhadap Trinitas nilai: Kebenaran, Kebajikan, dan Martabat Kemanusiaan", yang seharusnya menjadi dasar setiap lembaga pendidikan berbasis iman.

Baca Juga: APBD 2026 Diketok, Demokrat Ingatkan Pemda Manggarai: Harapan Rakyat adalah Perjuangan Kami

Dalam pernyataan sikapnya yang diterima media ini pada Sabtu malam (29/11), ia menegaskan bahwa tindakan oknum tersebut bukan hanya melanggar hukum positif, tetapi juga merusak inti moralitas gereja dan dunia akademik. 

Ia menyebutnya sebagai "krisis epistemologis" karena figur yang seharusnya menjadi pewarta nilai justru menjadi pelaku perendahan martabat manusia.

"Institusi pendidikan, apalagi yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani, seharusnya menjadi oase bagi pencarian kebenaran. Ketika mimbar akademik berubah menjadi ruang eksploitasi, yang terjadi adalah nihilisme etis," tegas Karsha.

Karsha menyebut tindakan tersebut sebagai korosi jiwa, yang bukan hanya mencederai korban, tetapi turut merontokkan kepercayaan publik terhadap gereja dan institusi pendidikan Katolik di Manggarai.

Baca Juga: Pesan Mesra hingga Pelecehan Fisik: Begini Kronologi Pemecatan Dosen ILS di Kampus Unika Ruteng

Baginya, ini bukan peristiwa yang dapat diabaikan atau disapu di bawah karpet.

Lebih lanjut, Karsha mengusulkan penegakan hukum tanpa kompromi. 

Menurutnya, proses hukum pidana harus berjalan maksimal, demikian pula proses kanonik di internal gereja. 

Dengan tegas, Ia juga mengingatkan bahwa jubah dan status akademik tidak boleh menjadi tameng impunitas.

"Tidak boleh ada toleransi terhadap pelecehan seksual baik di kelas, di ruang bimbingan, maupun di balik jubah keimaman. Hukuman harus seberat-beratnya, agar tidak ada lagi yang berani bermain dengan nasib mahasiswa," ujarnya.

Selain itu, ia mendesak pemecatan permanen terhadap pelaku dari seluruh jabatan dan status, disertai pengumuman publik sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan efek jera.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X