Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng: Ajakan Bangkit dari “Kubur Kehidupan”

photo author
Gordianus Jamat, Ide Nusantara
- Minggu, 5 April 2026 | 07:49 WIB
Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng: Ajakan Bangkit dari “Kubur Kehidupan”
Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng: Ajakan Bangkit dari “Kubur Kehidupan”

IDENUSANTARA.COM - Perayaan Hari Raya Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng berlangsung penuh khidmat sekaligus menyentuh kehidupan nyata umat. Misa dipimpin oleh Patrick Dharsam Guru, Vikaris Paroki Katedral Ruteng yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Persekolahan Sukma Pusat.

Suasana perayaan semakin hidup melalui pelayanan koor dari Wilayah Rowang Galilea yang dipimpin oleh Sipri Liba. Nyanyian yang dibawakan membantu umat masuk dalam suasana sukacita iman akan kebangkitan Kristus.

Baca Juga: Kisah PONTIUS PILATUS: Tokoh di Balik Penyaliban Yesus

Dalam homilinya, Romo Patrick menekankan bahwa Paskah tidak berhenti pada perayaan liturgi, melainkan harus menyentuh pengalaman konkret umat. Ia mengajak umat untuk jujur melihat hidup: ada banyak situasi di mana manusia merasa buntu, lelah, bahkan kehilangan harapan.

Untuk menggambarkan hal itu, ia membagikan kisah nyata tentang seorang siswa yang gagal dalam ujian. Kegagalan tersebut membuatnya merasa hidupnya berakhir. Ia memilih mengurung diri di kamar, menutup diri dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Kondisi itu membuat orangtuanya cemas hingga akhirnya meminta bantuan seorang guru. Dengan pendekatan yang tenang dan penuh kesabaran, guru tersebut tidak memaksa, melainkan mengajak sang siswa untuk melihat bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan “batu” yang masih bisa digulingkan.

Respons kecil pun terjadi: pintu kamar perlahan terbuka. Bagi Romo Patrick, momen itu adalah simbol kebangkitan, sebuah langkah awal untuk keluar dari kegelapan hidup.

Baca Juga: Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Ia menegaskan bahwa kisah tersebut mencerminkan realitas banyak orang yang hidup dalam “kubur-kubur batin”: rasa bersalah, luka lama, kegagalan, hingga keputusasaan.

“Yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai terbiasa dengan keadaan itu, biasa hidup tanpa harapan, biasa menjauh dari Tuhan, dan tidak lagi merasa perlu berubah,” ungkapnya dalam homili.

Lebih jauh, ia mengaitkan refleksi tersebut dengan Injil Paskah yang menampilkan kubur kosong sebagai tanda kemenangan hidup atas kematian. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa tidak ada situasi yang tertutup bagi Allah.

Mengutip sabda Yesus, “Akulah Kebangkitan dan Kehidupan,” ia mengajak umat untuk berani keluar dari “kubur” masing-masing.

“Batu sudah terguling. Persoalannya bukan lagi apakah Tuhan mampu, tetapi apakah kita mau keluar dan bangkit,” tegasnya.

Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung

Perayaan Ekaristi diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh umat yang hadir. Suasana doa dan nyanyian menciptakan pengalaman iman yang mendalam dan penuh harapan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

BENARKAH KITAB SUCI KATOLIK DIUBAH

Rabu, 8 April 2026 | 08:06 WIB

LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Rabu, 8 April 2026 | 08:01 WIB

Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Sabtu, 4 April 2026 | 15:22 WIB

APAKAH SINTERKLAS SUNGGUH ADA?

Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:30 WIB
X