IDENUSANTARA.COM - Perayaan Hari Raya Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng berlangsung penuh khidmat sekaligus menyentuh kehidupan nyata umat. Misa dipimpin oleh Patrick Dharsam Guru, Vikaris Paroki Katedral Ruteng yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Persekolahan Sukma Pusat.
Suasana perayaan semakin hidup melalui pelayanan koor dari Wilayah Rowang Galilea yang dipimpin oleh Sipri Liba. Nyanyian yang dibawakan membantu umat masuk dalam suasana sukacita iman akan kebangkitan Kristus.
Baca Juga: Kisah PONTIUS PILATUS: Tokoh di Balik Penyaliban Yesus
Dalam homilinya, Romo Patrick menekankan bahwa Paskah tidak berhenti pada perayaan liturgi, melainkan harus menyentuh pengalaman konkret umat. Ia mengajak umat untuk jujur melihat hidup: ada banyak situasi di mana manusia merasa buntu, lelah, bahkan kehilangan harapan.
Untuk menggambarkan hal itu, ia membagikan kisah nyata tentang seorang siswa yang gagal dalam ujian. Kegagalan tersebut membuatnya merasa hidupnya berakhir. Ia memilih mengurung diri di kamar, menutup diri dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Kondisi itu membuat orangtuanya cemas hingga akhirnya meminta bantuan seorang guru. Dengan pendekatan yang tenang dan penuh kesabaran, guru tersebut tidak memaksa, melainkan mengajak sang siswa untuk melihat bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan “batu” yang masih bisa digulingkan.
Respons kecil pun terjadi: pintu kamar perlahan terbuka. Bagi Romo Patrick, momen itu adalah simbol kebangkitan, sebuah langkah awal untuk keluar dari kegelapan hidup.
Baca Juga: Mengapa Disebut JUMAT AGUNG
Ia menegaskan bahwa kisah tersebut mencerminkan realitas banyak orang yang hidup dalam “kubur-kubur batin”: rasa bersalah, luka lama, kegagalan, hingga keputusasaan.
“Yang paling berbahaya adalah ketika kita mulai terbiasa dengan keadaan itu, biasa hidup tanpa harapan, biasa menjauh dari Tuhan, dan tidak lagi merasa perlu berubah,” ungkapnya dalam homili.
Lebih jauh, ia mengaitkan refleksi tersebut dengan Injil Paskah yang menampilkan kubur kosong sebagai tanda kemenangan hidup atas kematian. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa tidak ada situasi yang tertutup bagi Allah.
Mengutip sabda Yesus, “Akulah Kebangkitan dan Kehidupan,” ia mengajak umat untuk berani keluar dari “kubur” masing-masing.
“Batu sudah terguling. Persoalannya bukan lagi apakah Tuhan mampu, tetapi apakah kita mau keluar dan bangkit,” tegasnya.
Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung
Perayaan Ekaristi diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh umat yang hadir. Suasana doa dan nyanyian menciptakan pengalaman iman yang mendalam dan penuh harapan.
Artikel Terkait
Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H, Gubernur NTT Sebut Silaturahmi Kunci Perkuat Sinergi Daerah
Idul Fitri 1447 H di Labuan Bajo Kondusif, Kapolres Beri Apresiasi Tinggi atas Toleransi Warga
Jaga Identitas di Era Digital, LPKN Hadirkan Buku Muatan Lokal untuk Manggarai hingga Manggarai Timur
Anggaran Pupuk Cair Namun Barang Nihil, Kades Lando 'Dionysius Madas' Diduga Telip Anggaran Rp49 Juta
Dipecat Sepihak, Dituduh Mencuri: Mantan Relawan SPPG Wae Ri’i Seret Kepala Dapur ke Polisi
Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya
Sampaikan Kritik Tajam ke Pemda dan OPD Manggarai Timur, Rikard Persly: Urus Daerah Bukan Urus Soal Like and Dislike