Idenusantara.com-Dalam perjalanan sejarah Gereja, seringkali muncul pertanyaan mengenai keaslian dan kemurnian Kitab Suci yang digunakan oleh umat Katolik. Tuduhan bahawa Kitab Suci Katolik telah "diubah" atau "ditambah-tambah" bukanlah hal yang baru.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam fakta sejarah mengenai perkembangan kanon Kitab Suci dalam Gereja Katolik, dengan merujuk pada sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung
Menelusuri Sejarah dan Perkembangan Kanon Kitab Suci
Memahami Apa Itu "Kanon" Kitab Suci
Sebelum menjawab tuduhan perubahan, kita perlu memahami istilah "kanon". Kanon Kitab Suci merujuk pada daftar kitab-kitab yang diakui oleh Gereja sebagai diilhamkan oleh Roh Kudus dan berwibawa untuk ajaran iman. Proses penetapan kanon ini tidak terjadi dalam semalam, tetapi melalui perjalanan panjang yang berlangsung selama berabad-abad.
Gereja Katolik mengakui 73 kitab dalam Kanon Kitab Suci, yang terdiri dari 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Perbezaan jumlah ini dengan Alkitab Protestan yang hanya memiliki 39 kitab Perjanjian Lama sering menjadi titik perdebatan, namun perlu dilihat dalam konteks sejarah yang benar.
Baca Juga: Solidaritas dari Katedral Ruteng: Bantuan Mengalir untuk Pembangunan Gereja dan Umat di Momen Paskah
Akar Sejarah Kanon Perjanjian Lama
Perjanjian Lama yang digunakan oleh Gereja Katolik merujuk pada Septuaginta (LXX), yaitu terjemahan Kitab Suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang dilakukan di Alexandria sekitar abad ke-3 hingga ke-2 sebelum Masehi. Septuaginta ini merupakan Kitab Suci yang digunakan oleh para Rasul dan komuniti Kristian perdana.
Septuaginta memuat tujuh kitab yang tidak terdapat dalam Teks Masoret (Kitab Suci Ibrani yang kemudian distandardisasi oleh kaum Yahudi Rabinik). Ketujuh kitab ini adalah: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, dan 2 Makabe, serta tambahan pada kitab Daniel dan Ester. Kitab-kitab ini disebut sebagai kitab Deuterokanonika (berarti "kanon kedua") oleh Gereja Katolik.
Ketika para Rasul mewartakan Injil, mereka menggunakan Septuaginta sebagai Kitab Suci mereka. Lebih dari 300 dari 350 kutipan Perjanjian Lama yang terdapat dalam Perjanjian Baru diambil dari Septuaginta Yunani, termasuk kutipan dari kitab-kitab Deuterokanonika. Ini menunjukkan bahawa komuniti Kristian perdana sudah menerima kitab-kitab tersebut sebagai bahagian dari Kitab Suci mereka.