Idenusantara.com-Mimpi adalah pengalaman universal manusia. Setiap malam, saat kita terlelap, kita memasuki dunia yang misterius—kadang indah, kadang mengerikan, kadang terasa begitu nyata hingga kita terbangun dengan seribu tanya.
"Apakah mimpi itu benar? Saya didatangi oleh ayah saya dan kawan saya yang berpakaian putih. Apakah ini nyata?"
Pertanyaan ini menyentuh kerinduan terdalam hati manusia: apakah orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita masih peduli? Apakah ada komunikasi antara dunia kita dan dunia mereka? Dan bagaimana kita, sebagai umat Katolik, harus menyikapi pengalaman seperti ini?
Baca Juga: Solidaritas dari Katedral Ruteng: Bantuan Mengalir untuk Pembangunan Gereja dan Umat di Momen Paskah
Mari kita renungkan bersama, dengan berlandaskan pada Kitab Suci, Tradisi Suci, dan ajaran Gereja.
1. Mimpi dalam Perspektif Kitab Suci dan Tradisi Gereja
Gereja Katolik tidak pernah menolak kemungkinan bahawa Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui mimpi. Sejak Perjanjian Lama, kita melihat banyak contoh di mana mimpi menjadi sarana komunikasi ilahi.
Kitab Suci mencatat bagaimana Tuhan menggunakan mimpi untuk berbicara kepada umat-Nya. Dalam Kitab Bilangan, Tuhan berfirman: "Jika di antara kamu ada seorang nabi, Aku, TUHAN, menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara kepadanya dalam mimpi" (Bilangan 12:6). Nabi Daniel, Yusuf anak Yakub, dan banyak tokoh lainnya menerima wahyu ilahi melalui mimpi.
Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung
Yang paling indah dan relevan dengan pertanyaan kita adalah kisah Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria. Dalam Injil Matius, kita membaca bahawa empat kali Tuhan berbicara kepada Yusuf melalui mimpi:
- Mimpi pertama:
Malaikat Tuhan menampakkan diri dan berkata, "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu" (Matius 1:20).
-Mimpi kedua:
"Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir" (Matius 2:13).