Idenusantara.com-Pada saat Yesus tergantung di kayu salib, tepat ketika mentari seharusnya berada di puncak kejayaan sinarnya, kegelapan justru menyelimuti seluruh bumi. Peristiwa ini bukanlah sekadar latar dramatis, melainkan sebuah momen teologi yang sarat makna tentang dosa, penghakiman, dan kasih yang tersembunyi.
1.Catatan Para Penginjil: Kegelapan di Siang Hari
Ketiga Injil Sinoptik dengan tegas mencatat kejadian luar biasa ini.
Santo Matius mewartakan, “Pada tengah hari, selama tiga jam, seluruh negeri itu menjadi gelap.”
Santo Markus, yang menulis berdasarkan pewartaan Santo Petrus, memperincikan waktu dengan lebih tepat: “Setelah sampai pukul dua belas tengah hari, gelaplah seluruh tanah itu sampai pukul tiga petang.”
Sementara itu, Santo Lukas menambahkan satu detail penting yang menguatkan keajaiban ini: “Matahari tidak bersinar.” Kegelapan ini bukanlah gerhana matahari biasa, kerana peristiwa itu terjadi ketika bulan sedang purnama, saat posisi bulan dan matahari bertentangan.
Para Bapa Gereja melihat dalam peristiwa ini suatu tanda bahawa alam semesta turut bersedih atas kematian Penciptanya, dan bahawa terang dunia sejati untuk sementara waktu seolah-olah padam oleh kegelapan dosa manusia.
Baca Juga: Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng: Ajakan Bangkit dari “Kubur Kehidupan”
2.Tradisi Gereja: Makna Tersembunyi di Balik Gelap
Dalam tradisi alkitabiah, kegelapan memiliki dua makna yang saling melengkapi. Di satu sisi, kegelapan adalah simbol dari kejahatan, maut, dan ketiadaan Tuhan.
Sebagaimana dikenang dalam liturgi Jumaat Agung, kegelapan itu melambangkan saat di mana “cinta menjadi kebencian dan kehidupan menjadi mati”.
Namun di sisi lain, kegelapan juga merupakan tanda kehadiran Tuhan yang misterius dan karya penyelamatan-Nya yang tersembunyi.
Paus Benediktus XVI, dalam salah satu Audiensinya, mengajak kita merenungkan bahawa “dalam kegelapan ini Tuhan juga hadir; Ia tidak meninggalkan mereka.” Di saat terang dunia seolah-olah padam, justru di situlah Tuhan sedang mengerjakan karya penebusan yang paling agung.