Idenusantara.com -- Minggu Palma merupakan perayaan yang dilakukan umat Katolik. Minggu Palma bukan sekedar peringatan Pekan Suci jelang Paskah. Peristiwa Yesus datang ke Yerusalem memiliki arti mendalam yang diteladani umat Katolik di seluruh dunia.
Dalam peristiwa Yesus datang ke Yerusalem, Sang Juru Selamat menunggangi keledai. Sikap yang menunjukan kerendahan hati Yesus. Sebab, Ia tak menunggang kuda, yang pada zaman itu menjadi tunggangan para raja.
"Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai putri Sion, bersorak-soraklah, hai putri Yerusalem! Lihat, Rajamu datang kepadamu; Ia adil dan membawa keselamatan; Ia rendah hati dan menunggangi seekor keledai, seekor keledai beban yang muda," Zakharia 9:9.
Ketika datang, orang-orang berkumpul dan meletakkan daun palem serta jubah mereka di seberang jalan. Mereka memberlakukan Yesus bak raja. Para pengikut Yesus melambari jalan di Yerusalem dengan daun palem, sebelum Yesus memasuki wilayah tersebut. Melambari daun palem itu merupakan kebiasaan yang dilakukan bagi orang yang berkedudukan tinggi di zaman tersebut.
Sejarah Minggu Palma
Mengutip dari berbagai sumber sebelumnya, sejarah dari Minggu Palma dimulai ketika peristiwa datangnya Yesus ke Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Saat itu, Yesus menaiki keledai dan banyak orang mengelu-elukan-Nya dengan membawa daun palma.
Dikutip dari laman Catholic Culture, ibadah Minggu Palma ini berasal dari Kerajaan Franka. Dalam perkembangannya, ternyata tidak hanya menggunakan daun palma saja, namun beberapa negara menggunakan ranting maupun bunga.
Dalam Injil Sinoptik (Matius 21: 8, Markus 11: 8, Lukas 19: 36), tak ditemukan cerita tentang orang banyak mengelu-elukan Yesus menggunakan daun palma. Namun, dalam Kitab Yohanes 12: 13 menyebutkan penggunaan daun palma.
Oleh karena itu, terbentuknya tradisi Minggu Palma ini berdasarkan pada Injil Kitab Yohanes.
Makna Minggu Palma
Perayaan Minggu Palma mempunyai makna untuk mengenang datangnya Yesus ke Yerusalem sebelum disalibkan dan dielu-elukan oleh orang banyak.
Dikutip dari laman resmi Institut Shanti Bhuana, penetapan Minggu Palma sebagai pembuka Pekan Suci berdasar pada pekan terakhir Yesus berada di Yerusalem. Sedangkan makna daun palma yang dilambaikan, yaitu bentuk pujian kemuliaan atas kemenangan Yesus Kristus yang telah bangkit mengalahkan kematian.
Oleh sebab itu, saat ini daun palma juga bermakna sebagai bentuk pengingat umat Kristiani terhadap kemenangan Tuhan Yesus melawan kematian dan dosa.