Dalam konteks gereja di Indonesia, istilah Jumat Agung menjadi sangat kaya karena ia berhasil menangkap inti teologis dari peristiwa itu. Ia tidak sekadar menyalin istilah asing, tetapi menerjemahkan makna iman yang terkandung di dalamnya. Gereja di Indonesia tampaknya tidak hanya ingin mengatakan bahwa Jumat itu “baik”, tetapi bahwa Jumat itu besar dalam karya Allah, agung dalam nilai penebusan, dan luhur dalam makna keselamatan. Dan justru di situlah keindahannya. Sebab salib memang tidak pernah bisa dipahami dengan mata biasa. Ia hanya bisa dipahami dengan iman yang melihat bahwa Allah bekerja paling dalam justru di saat dunia mengira semuanya telah berakhir.
Baca Juga: Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya
Akhirnya, istilah Jumat Agung mengingatkan kita bahwa dalam iman Kristen, sesuatu yang tampaknya paling gelap justru dapat menjadi titik paling mulia dari karya Allah. Kematian Kristus memang adalah peristiwa dukacita, tetapi bukan dukacita tanpa tujuan. Itu adalah dukacita yang melahirkan keselamatan. Itu adalah penderitaan yang menghasilkan pendamaian. Itu adalah salib yang membuka jalan kepada hidup. Maka gereja sepanjang zaman menyebut hari itu bukan sekadar Jumat Sedih, bukan pula hanya Jumat Duka, tetapi Jumat Agung, sebab pada hari itulah Allah menyatakan keadilan-Nya, kasih-Nya, dan keselamatan-Nya secara paling sempurna di dalam Kristus.
Karena itu, ketika orang percaya menyebut nama hari itu, ia sesungguhnya sedang membuat sebuah pengakuan iman bahwa di salib Kristus, Allah mengerjakan sesuatu yang terlalu besar untuk disebut biasa. Dan itulah sebabnya, sampai hari ini, gereja tetap menyebutnya dengan penuh hormat dan penuh iman bahwa hari itu disebut Jumat Agung.