Idenusantara.com-Setiap tahun gereja di seluruh dunia memperingati hari kematian Yesus Kristus dengan sebuah sebutan yang sangat khas yaitu Jumat Agung. Namun bagi banyak orang, istilah ini menyimpan sebuah pertanyaan yang cukup mendasar yaitu mengapa hari kematian Yesus disebut “agung”? Bukankah hari itu adalah hari penderitaan, penghinaan, darah, ratapan, dan kematian? Bukankah secara manusiawi itu adalah salah satu hari paling gelap dalam sejarah? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab secara dangkal, sebab di balik istilah Jumat Agung tersimpan cara gereja memahami salib Kristus sebagai pusat sejarah keselamatan.
Secara etimologis, istilah “Jumat Agung” dalam bahasa Indonesia merupakan bentuk ungkapan yang menekankan keagungan makna dari peristiwa salib. Kata “agung” tidak selalu berarti meriah atau menyenangkan, melainkan menunjuk pada sesuatu yang besar, luhur, mulia, dan memiliki bobot rohani yang sangat dalam. Karena itu, gereja tidak menyebut hari kematian Yesus sebagai “agung” karena penderitaan-Nya itu indah secara lahiriah, melainkan karena apa yang dikerjakan Allah pada hari itu begitu besar dan menentukan, sehingga tidak mungkin dipandang sebagai peristiwa biasa. Dengan kata lain, keagungan Jumat itu tidak terletak pada suasananya, tetapi pada makna penebusan yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung
Dalam bahasa Inggris, hari ini dikenal dengan istilah Good Friday. Secara harfiah, istilah itu berarti “Jumat Baik”, dan bagi pembaca modern ini memang terdengar janggal. Bagaimana mungkin hari penyaliban Yesus disebut “baik”? Namun dalam perkembangan bahasa Inggris kuno, kata good tidak selalu dipakai sekadar dalam arti “menyenangkan” atau “positif”, melainkan juga dapat menunjuk pada sesuatu yang saleh, kudus, atau suci. Karena itu, banyak ahli memahami bahwa istilah Good Friday lebih dekat kepada makna “Jumat Kudus” atau “Jumat yang baik dalam rencana Allah”, bukan Jumat yang nyaman secara emosional. Istilah ini diketahui telah digunakan setidaknya sejak abad ke-14, dan kemudian mengakar kuat dalam tradisi gereja berbahasa Inggris.
Dalam tradisi Latin gereja Barat, hari ini dikenal dengan nama Feria Sexta in Parasceve, yang secara sederhana berarti “hari Jumat dalam masa persiapan”, yakni hari persiapan menjelang Sabat Paskah Yahudi. Penyebutan ini menunjukkan bahwa pada tahap awal, gereja menandai hari kematian Kristus terutama dalam kerangka liturgi dan kalender keselamatan. Sementara itu, dalam tradisi Yunani dan gereja Timur, hari ini dikenal sebagai Megalē Paraskeuē, yang berarti “Jumat Besar” atau “Jumat Agung.” Ini penting, sebab menunjukkan bahwa gagasan menyebut hari kematian Kristus sebagai hari yang besar, luhur, dan penuh bobot keselamatan sudah sangat tua dalam tradisi gereja. Dengan demikian, istilah “Jumat Agung” yang dipakai dalam bahasa Indonesia bukanlah penyebutan yang aneh, melainkan sangat dekat dengan cara gereja sepanjang sejarah memahami hari itu yaitu sebagai hari yang besar dalam karya Allah.
Jika kemudian muncul pertanyaan, siapa tokoh di balik populernya istilah Jumat Agung, maka jawabannya harus diberikan dengan hati-hati. Secara historis, tidak ada satu tokoh tunggal yang dapat disebut sebagai pencipta istilah ini. Istilah seperti Good Friday, Great Friday, atau bentuk-bentuk liturgis lainnya tidak lahir dari satu keputusan individu, melainkan berkembang secara organik melalui kehidupan, ibadah, dan refleksi gereja selama berabad-abad. Dengan kata lain, istilah ini lahir bukan terutama dari seorang “penemu”, tetapi dari kesadaran teologis gereja bahwa hari kematian Kristus adalah hari yang penuh dukacita sekaligus penuh kemuliaan. Namun demikian, jika kita berbicara tentang tokoh dan masa yang ikut memperluas pengaruh peringatan Jumat sebelum Paskah dalam kehidupan gereja, maka kita memang perlu menyebut gereja abad ke-4, terutama setelah Kekristenan mendapat ruang publik yang lebih luas dalam Kekaisaran Romawi. Pada masa inilah perayaan Pekan Suci mulai semakin tertata, meluas, dan terlembagakan dalam kehidupan gereja. Tokoh seperti Kaisar Konstantinus tidak menciptakan istilah Jumat Agung, tetapi konteks gerejawi pada zamannya ikut memungkinkan peringatan sengsara dan kematian Kristus menjadi semakin mapan dan dikenal luas di dunia Kristen.
Baca Juga: KAMIS PUTIH:MEMAKNAI KASIH, KERENDAHAN HATI, DAN EKARISTI
Namun, dari perspektif teologi Kristen, pertanyaan yang paling penting sebenarnya bukan pertama-tama siapa yang memopulerkan istilah itu, melainkan mengapa gereja merasa perlu menyebut hari itu sebagai hari yang agung. Dan di sinilah pusat persoalannya. Jumat Agung disebut agung karena pada hari itulah Kristus menanggung hukuman dosa umat-Nya di hadapan Allah yang kudus dan adil. Ini bukan sekadar hari di mana Yesus menderita secara tragis. Ini adalah hari ketika Anak Allah menyerahkan diri-Nya sebagai korban pengganti bagi orang berdosa. Dalam bahasa teologi, salib harus dipahami sebagai penebusan pengganti yang menanggung hukuman (penal substitutionary atonement). Artinya, Yesus tidak mati hanya untuk memberi teladan kasih, bukan pula hanya untuk menunjukkan solidaritas ilahi terhadap penderitaan manusia, tetapi untuk memikul hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada kita.
Di sinilah letak keagungan Jumat itu. Hari itu agung bukan karena manusia menunjukkan belas kasihan kepada Yesus, melainkan karena Allah menunjukkan keadilan dan kasih-Nya secara serentak di atas kayu salib. Salib adalah tempat di mana dosa benar-benar dihukum, tetapi pada saat yang sama orang berdosa dibukakan jalan pengampunan. Dalam teologi Kristen, ini sangat penting, kasih Allah di salib tidak pernah boleh dipisahkan dari keadilan Allah. Allah tidak mengampuni manusia dengan cara mengabaikan dosa. Allah mengampuni manusia dengan cara menghukum dosa itu secara sungguh-sungguh di dalam diri Kristus. Karena itu, Jumat Agung bukan hanya hari belas kasihan, tetapi juga hari penghakiman kudus. Dan justru karena penghakiman itu telah ditanggung oleh Kristus, maka salib menjadi sumber damai bagi orang percaya.
Itulah sebabnya salib Kristus tidak boleh dipahami hanya sebagai simbol kesedihan atau sekadar momen yang mengharukan. Dalam terang Kitab Suci, Jumat Agung adalah penggenapan rencana Allah yang telah dinyatakan sejak semula. Sejak Perjanjian Lama, Allah telah menyatakan bahwa pendamaian dengan-Nya menuntut korban. Seluruh sistem korban dalam Taurat, darah anak domba Paskah, imam besar, mezbah, dan penghapusan dosa, semuanya menunjuk ke depan kepada satu korban yang sempurna: Kristus sendiri. Maka Jumat Agung tidak berdiri sendiri sebagai sebuah peristiwa historis yang terisolasi, tetapi merupakan puncak dari sejarah penebusan. Apa yang terjadi di Golgota adalah penggenapan dari janji, bayangan, nubuat, dan pola-pola perjanjian yang telah Allah tanamkan sejak zaman dahulu.
Baca Juga: Asistensi Paskah di Paroki Beokina, Mahasiswa Unika Ruteng Disambut Tradisi “Kepok Tiba”
Karena itu, ketika gereja menyebut hari itu Jumat Agung, gereja sebenarnya sedang mengakui sesuatu yang sangat besar yaitu bahwa di hari itu, Anak Domba Allah telah disembelih bagi umat-Nya. Hari itu agung karena pada hari itu hutang dosa dibayar, murka Allah dipuaskan, pendamaian dikerjakan, dan jalan keselamatan dibukakan. Secara lahiriah, dunia mungkin hanya melihat seorang manusia yang dipaku di kayu salib. Tetapi iman melihat lebih dalam, di atas salib itu, Sang Pengantara sedang berdiri di tempat umat-Nya. Dunia melihat kehinaan. Gereja melihat kemenangan. Dunia melihat akhir. Injil melihat awal dari hidup yang baru.
Menariknya, sejarah bahasa di berbagai bangsa juga memperlihatkan bagaimana gereja selalu berusaha menangkap misteri ganda dari hari ini yaitu dukacita dan kemuliaan. Dalam bahasa Jerman, misalnya, hari ini disebut Karfreitag, dan unsur Kar berasal dari kata lama yang berarti dukacita atau ratapan. Ini menunjukkan bahwa gereja tidak pernah menutup mata terhadap kesedihan salib. Salib memang menyakitkan. Salib memang gelap. Salib memang penuh air mata. Tetapi gereja juga tahu bahwa dukacita itu tidak boleh dibaca tanpa iman. Sebab justru melalui penderitaan itulah keselamatan datang. Dengan demikian, istilah seperti Good Friday, Great Friday, Karfreitag, maupun Jumat Agung, semuanya pada akhirnya berusaha mengatakan satu hal yang sama yaitu hari itu adalah hari yang sangat berat, tetapi juga sangat mulia.