IDENUSANTARA.COM - Upaya menjaga harga bawang merah tetap terjangkau di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai memberikan dampak yang lebih luas. Selain berhasil menekan harga komoditas tersebut di pasaran, pengusaha lokal yang akrab disapa Ninonk juga membuka peluang kerja bagi puluhan ibu rumah tangga melalui kegiatan penyortiran dan pembersihan bawang merah sebelum dipasarkan.
Model usaha yang diterapkan Ninonk mengandalkan pembelian bawang merah secara langsung dari petani. Pola distribusi ini dinilai mampu memangkas rantai pemasaran sehingga harga jual kepada masyarakat menjadi lebih murah, sekaligus memberikan kepastian pasar bagi para petani.
Baca Juga: Dari Hewokloang ke Panggung Nasional: Cletus Beru Tembus 5 Besar Wonderful Indonesia Award 2026
Sejak menerapkan skema tersebut dan menggelar pasar bawang merah murah, harga bawang merah di Labuan Bajo yang sebelumnya berkisar Rp40.000 per kilogram turun menjadi sekitar Rp25.000, bahkan di beberapa titik penjualan mencapai Rp23.000 per kilogram.
Untuk menjaga stabilitas harga, Ninonk memastikan stok bawang merah dalam jumlah besar telah disiapkan sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dalam beberapa bulan mendatang.
"Kami sudah menyiapkan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Labuan Bajo selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Harapan kami, masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kelangkaan maupun lonjakan harga bawang merah," kata Ninonk.
Ia mengatakan, ketersediaan stok menjadi bagian penting dari strategi menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat. Dengan pasokan yang cukup, potensi kenaikan harga akibat kelangkaan barang dapat diantisipasi sejak dini.
Menurut Ninonk, seluruh pasokan bawang merah diperoleh melalui pembelian langsung dari petani di daerah sentra produksi. Cara tersebut tidak hanya memperpendek jalur distribusi, tetapi juga memberikan keuntungan yang lebih adil bagi petani karena mereka memperoleh kepastian pembeli dengan harga yang layak.
"Kalau rantai distribusinya lebih pendek, biaya juga bisa ditekan. Petani tetap mendapatkan harga yang baik, sementara masyarakat bisa membeli bawang merah dengan harga yang lebih terjangkau," ujarnya.
Baca Juga: Lantik Winsensius Tala Jadi Sekda Matim, Bupati Agas; Jadilah Penggerak Birokrasi
Selain berdampak terhadap stabilitas harga, aktivitas usaha tersebut juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Sebelum dipasarkan, bawang merah harus melalui proses pembersihan, pemilahan, dan penyortiran yang dikerjakan oleh puluhan ibu rumah tangga di sekitar lokasi usaha.
Kegiatan itu menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para pekerja, sekaligus memberi kesempatan bagi mereka untuk tetap bekerja tanpa harus meninggalkan keluarga dalam waktu lama.
Kartini, salah seorang pekerja, mengaku bersyukur karena pekerjaan tersebut membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
"Hasilnya sangat membantu untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya anak-anak. Kami berterima kasih karena diberi kesempatan bekerja," ujarnya.
Hal senada disampaikan Yuliana. Menurutnya, pekerjaan menyortir bawang merah memberikan tambahan pendapatan yang cukup berarti bagi keluarganya.
"Selain bisa membantu ekonomi keluarga, kami juga tetap bisa mengurus rumah karena lokasi kerjanya dekat," katanya.
Bagi Ninonk, keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari keuntungan yang diperoleh. Ia berharap usaha yang dijalankannya dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak orang, mulai dari petani, konsumen hingga masyarakat yang terlibat dalam proses distribusi.
"Kalau petani mendapat harga yang baik, masyarakat bisa membeli dengan harga terjangkau, dan ibu-ibu di sekitar memperoleh tambahan penghasilan, berarti usaha ini membawa manfaat yang lebih luas," katanya.
Baca Juga: Menerangi Rumah dengan Cinta; OMK St. Eduardus Watunggong Pasang Meteran Listrik untuk Warga Miskin
Model distribusi yang diterapkan Ninonk menunjukkan bahwa tata niaga yang lebih efisien dapat memberikan dampak ekonomi di berbagai lini. Petani memperoleh kepastian pasar, masyarakat menikmati harga bawang merah yang lebih murah, sementara warga sekitar mendapatkan kesempatan bekerja melalui proses penyortiran dan pengemasan sebelum bawang merah dipasarkan.
Inisiatif tersebut juga menjadi contoh bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan petani mampu mendukung stabilitas harga pangan di daerah sekaligus menciptakan manfaat sosial bagi masyarakat. Dengan stok yang dipastikan aman hingga sekitar tiga bulan ke depan, diharapkan pasokan bawang merah di Labuan Bajo tetap terjaga sehingga masyarakat tidak lagi dibayangi kekhawatiran terhadap kelangkaan maupun lonjakan harga.
Penulis: Dion Damba