Harga Porang di Matim Turun Drastis, Petani Berharap Gubernur NTT Terpilih Bisa Perhatikan Persoalan Ini

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Selasa, 28 Januari 2025 | 10:01 WIB
Lahan Porang Salah satu Petani di Desa Rana Gapang-Manggarai Timur (Foto: Jhii. S)
Lahan Porang Salah satu Petani di Desa Rana Gapang-Manggarai Timur (Foto: Jhii. S)

Idenusantara.com-Porang merupakan salah satu tanaman komoditi yang saat ini menjadi minat tanam para petani di Manggarai Timur-NTT.Bukan tanpa alasan, porang terus diminati karena kemudahan tumbuh kembangnya yang serba jadi pada tanah jenis apapun.

Namun berbagai keluhan muncul dari para petani yang telah membudidayakan tanaman porang ini.Para petani porang mengeluhkan terkait harga umbi porang di Kabupaten Manggarai Timur yang anjlok menjadi Rp 5 ribu per kilogram.Selain umbinya, harga bibit porang juga mengalami penurunan.

Baca Juga: Ini Dia Jumlah Dana Transfer ke Daerah Manggarai Timur-NTT Pada Tahun 2025

Padahal, dulu harga umbi Porang bisa mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Sementara harga bibit juga mengalami penurunan tajam dari Rp 400 ribu menjadi Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram.

"Harga bibit juga gila-gilaan turunnya. Petani porang menjerit," ujar Eji salah seorang petani porang di Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, kepada Media ini, pada Selasa (28/1/2025).

Umbi Porang
Umbi Porang (Foto: Jhii. S)

Turunnya harga bibit Porang, kata Eji, sangat drastis dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Jika tahun lalu harga bibit porang perkilonya menembus Rp 400 ribu kini hanya tinggal Rp 35 hingga Rp 35 ribu.


"Setahun dua tahun lalu harga bibit katak Porang perkilonya bisa tembus Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu per kilogram. Kini tinggal Rp 20 ribu," kata Eji.

Ia mengungkapkan, turunnya harga bibit dan umbi porang menjadi dilema para petani. Di saat ingin mempertahankan porang atau menyimpan, namun kebutuhan hidup petani tidak bisa dihindari.

Baca Juga: Polisi RW Polres Manggarai Timur, Bripka Heribertus Tena Salurkan Bantuan Sosial di Desa Rengkam

"Kita ingin mempertahankan porang untuk tidak dijual. Namun kebutuhan ekonomi yang mendesak tidak bisa di hindari, teepaksa walau harga dibawah standar kita tetap menjualnya," paparnya.

Eji berharap pemerintah bisa mengatasi polemik harga porang ini kedepannya, dan kalau bisa ini dibuat dalam peraturan pemerintah terkait penetapan harganya.

"Kita berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi polemik ini, kalau bisa dibuatkan peraturan pemerintah yang resmi sehingga harga tidak morat marit" tandasnya.

Baca Juga: Uskup Surabaya Pimpin Misa Syukur Natal Keluarga Manggarai Surabaya

Ia berharap juga pada pemerintah provinsi NTT terlebih khusus kepada pasangan Gubernur terpilih yang sebentar lagi di lantik yaitu Pasangan Melki-Jhoni agar lebih memperhatikan kesejahteraan petani porang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X