Makna Hari Raya Nyepi

photo author
Carles Marsoni, Ide Nusantara
- Sabtu, 29 Maret 2025 | 06:43 WIB
Malam pengrepukan dan festival OGOH OGOH  menjelang Hari Raya NYEPI  besok hari. Dan Besok Hari seluruh Pulau Bali ,sunyi ,sepi ,tak ada aktifitas di laut ,darat dan Udara. Semua terhenti ,bebas polusi dan kebisingan, listrik mati juga siaran Televisi dan kartu provider dan internet.  (Foto: Hedwig Dino Landomari/IDN.com)
Malam pengrepukan dan festival OGOH OGOH menjelang Hari Raya NYEPI besok hari. Dan Besok Hari seluruh Pulau Bali ,sunyi ,sepi ,tak ada aktifitas di laut ,darat dan Udara. Semua terhenti ,bebas polusi dan kebisingan, listrik mati juga siaran Televisi dan kartu provider dan internet. (Foto: Hedwig Dino Landomari/IDN.com)

Tahapan ini dilakukan sehingga diharapkan untuk mengusir para Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Pada tingkat desa diadakan arakan Ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan dari Bhuta Kala yang memiliki sifat negatif. Diarak keliling desa kemudian di bakar, tujuannya agar hal-hal yang berbau negatif itu lenyap dan tidak mengganggu kehidupan manusia.

Baca Juga: Perampokan oleh Geng Rusia di Bali, Umbu Rudi Kabunang Minta Menteri Imigrasi Serius Pantau Pergerakan WNA

2. Nyepi Keesokan harinya, pada Tilem Kesanga, tibalah Hari Raya Nyepi, pada saat Nyepi khususnya di Bali, semua dalam keadaan sepi. Tidak ada aktifitas seperti biasanya, pada hari ini dilakukan puasa Nyepi, karena pada saat itu diadakan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari: • • Amati Geni, yaitu tidak boleh menggunakan atau menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu. 

• Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.

• Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan melakukan mawas diri.

•Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan/hiburan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi.. Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabrata” fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24 jam). 

Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Sehingga Hari Raya Nyepi dapat dikatakan mengandung makna hari penyucian diri (manusia) dan alam semesta. Membuang segala kotoran atau segala hal negatif yang telah lampau untuk menyongsong tahun baru (saka). Dan memulai tahun baru dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang positif tentunya.

Semangat yang baru untuk mengarungi kehidupan selanjutnya. Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Lakukan Berata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur).

3. Ngembak GeniNgembak Geni yang jatuh sehari setelah Nyepi (Ngembak Api), sebagai rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka. Dilaksanakan dengan mengadakan kunjungan antar keluarga maupun para tetangga dan kenalan. Saling memaafkan satu sama lain dengan memegang prinsip Tattwam Asi yaitu “aku adalah kamu dan kamu adalah aku“. Posisi kita sama dihadapan Tuhan, walaupun kita berbeda agama atau keyakinan hendaknya kita hidup rukun dan damai selalu. Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Carles Marsoni

Sumber: dari beberapa sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X