Idenusantara.com - Bayangkan semisal ada ibu hamil yang harus mengantar ibu yang hendak melahirkan melewati jalan berbatu, berlubang, dan licin tanpa kendaraan, hanya dengan tandu seadanya. Itulah kenyataan yang dihadapi warga Kecamatan Rahong Utara, sebuah daerah yang tersembunyi di balik perbukitan Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga: Jalan Rusak Hingga Berlubang di Rahong Utara, Bupati Manggarai Masa Bodoh
Di wilayah ini, jalan bukan sekedar akses, ia adalah harapan, penghubung kehidupan. Namun, jalan yang ada di desa-desa seperti Wae Mantang dan Pong Lengor justru menjadi simbol keterputusan. Sudah bertahun-tahun warga menyuarakan keluhan, tapi jalan rusak itu tetap dibiarkan. Seolah derita mereka hanya angin lalu.
Jalan yang Tak Pernah Sembuh
Kerusakan jalan bukan hanya retakan fisik, tapi luka sosial yang menganga. Lubang-lubang besar menghambat motor, membuat pengendara jatuh, memutus alur ekonomi, dan mengancam nyawa. Musim hujan tiba, jalan berubah jadi kubangan lumpur. Musim kemarau datang, batu tajam mencuat tak bersahabat.
“Saya pernah jatuh dua kali dalam sebulan. Waktu itu bawa anak ke puskesmas. Badan lecet, motor rusak. Tapi ya bagaimana, itu satu-satunya jalan.” cerita Teresia (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga.
Gotong Royong yang Tak Pernah Dianggap
Karena tidak ingin menunggu janji yang entah kapan datang, warga pun bergotong royong. Mereka memikul batu dari sungai, mencangkul tanah untuk menambal lubang, bahkan iuran membeli material seadanya. Tapi upaya itu seperti menampung air di keranjang.
“Kami bukan ahli teknik, kami hanya ingin jalan bisa dilewati. Kami sudah coba. Tapi sampai kapan kami harus kerja sendiri?," kata Yohanes pemuda desa yang aktif mengorganisasi perbaikan swadaya.
Bukan Sekadar Infrastruktur
Dampaknya luas dan menyentuh setiap sisi kehidupan. Anak-anak sekolah harus berjalan jauh karena kendaraan tak bisa masuk desa. Hasil panen terhambat karena truk takut masuk. Petugas kesehatan kesulitan menjangkau pasien, bahkan dalam kondisi darurat.
“Satu nyawa bisa hilang hanya karena jalan,” ucap Valens, mengenang keponakannya yang meninggal karena keterlambatan rujukan ke rumah sakit di Ruteng.
Ketika Pemerintah Tak Lagi Mendengar
Keluhan demi keluhan telah dilayangkan ke DPRD, ke media, ke tokoh politik. Tapi yang datang hanya janji, bukan alat berat. Warga mulai bertanya-tanya: apakah mereka dianggap bagian dari republik ini?
Artikel Terkait
Bebaskan Warga Lioboto Dari Jalan Rusak; Oni Rega Desak Pemkab Ende Gunakan Pinjaman Daerah
Kondisi Jalan Rusak Parah, Berharap Gubernur Terpilih Bisa Menjawab Keluhan Masyarakat Elar Selatan.
Gunakan Cor Beton, Polisi Perbaiki Jalan Rusak dan Berlubang di Labuan Bajo
Jalan Rusak Hingga Berlubang di Rahong Utara, Bupati Manggarai Masa Bodoh