“Saya bilang ke ibu itu, ‘Ibu harus dengar arahan saya. Kalau sakit jangan terus berteriak, tarik napas yang dalam.’ Saya coba tenangkan sambil ajarkan cara atur napas,” kenangnya.
Di tengah kepanikan, Theresa terus memberi semangat. Hingga akhirnya, kepala bayi mulai terlihat.
“Saya langsung panggil Pak Mantri, ‘Pak, tolong bantu saya, bayinya sudah mau keluar!," tuturnya.
Baca Juga: Tak Disangka! Baru Dilantik Jadi Kepsek SMPN 5 Ruteng, ES Diseret ke Polres Manggarai
Dengan alat seadanya, proses persalinan berhasil. Tapi ketegangan belum usai. Bayi perempuan itu lahir dalam kondisi kebiruan dan belum menangis.
“Saya langsung tepuk beberapa kali. Puji Tuhan, akhirnya bayi yang sangat cantik itu menangis,” ujar Theresa haru.
Tangisan pertama sang bayi mengubah suasana ruang medis menjadi haru. Bahkan kapten kapal menuliskan namanya di kertas: Clarista Lucitra nama yang diambil dari nama kapal dan nama ibunya.
Baca Juga: Tak Lagi Berpindah-pindah, NTL Kini Punya Rumah Singgah Nyaman Saat Berobat di Ruteng
“Saya Hanya Jalankan Sumpah Kemanusiaan”
Bagi Theresa, ini adalah momen paling berat dalam hidupnya sebagai bidan.
“Dengan peralatan yang sangat terbatas, saya hanya pasrah. Mau menolong takut, tapi kalau tidak menolong saya merasa sangat bersalah. Saya lakukan ini murni karena kemanusiaan,” tegasnya.
Setelah persalinan, Theresa memastikan kondisi ibu dan bayi stabil. Karena kondisi ibu tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan hingga Maumere, ia meminta agar keduanya dirujuk saat kapal sandar di Labuan Bajo.
Ibu bayi diketahui berasal dari Paga, Kabupaten Sikka, sementara suaminya dari Kabupaten Malaka. Pihak kapal juga membantu mengurus administrasi kelahiran selama perjalanan.