Idenusantara.com-Minggu pagi di Dusun Wogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, tidak seperti biasanya. Langkah Aipda Hery Tena dari Sidokkes Polres Ngada berhenti di depan rumah sederhana milik keluarga Jimianus Longa, 21 tahun.
Bukan razia. Bukan pemeriksaan. Tapi “Minggu Kasih” dengan berbagi.
Kunjungan itu bermula dari goresan nurani. Beberapa hari sebelumnya, Aipda Hery membaca berita online berjudul _“Ngada NTT: Rintihan hidup si Yatim di balik gemerlap Zaman”_ yang tayang 15 Januari 2026. Isinya tentang Jimi Longa, remaja yatim yang 10 tahun terakhir menukar wortel dengan beras demi dapur keluarganya tetap mengepul.
Cerita itu tidak bisa dia diamkan.
10 Tahun Jalan Kaki: Wortel Ditukar Beras, Demi Ibu dan Kakek
Jimi kehilangan ayah sejak kecil. Tumbuh bersama ibu Margaretha Heme 49 tahun, saudara perempuan, dan kakek di Golewa. Ekonomi remuk. Ibu sering sakit. Pilihan pahit datang: putus sekolah sejak SD.
Sejak itu, tiap hari Jimi jalan kaki dari rumah ke rumah. Menjajakan kue, kopi, sayur wortel. Hasilnya tak selalu uang. Sering wortel yang dipikulnya ditukar langsung dengan beras. Panas terik atau hujan, langkahnya tetap sama. Kadang ditolak warga. Kadang dagangan tak laku. Tapi Jimi tetap pulang membawa harapan.
“Dia anak yang luar biasa. Di usia segitu sudah jadi tulang punggung keluarga selama hampir 10 tahun,” kata Aipda Hery usai pertemuan pada Minggu (31/5/2026) lalu.
Baca Juga: Polres Ngada Turun Gunung: Dokkes dan Binmas Kolaborasi Salurkan Beras untuk Warga Pedalaman Bajawa
Polri Hadir: Sembako, Empati, dan Harapan Baru
Minggu pagi itu, Aipda Hery datang membawa paket sembako. Diserahkan langsung ke tangan Ibu Margaretha dan Jimi. Tidak banyak, tapi cukup untuk meringankan beban beberapa hari ke depan.
Keluarga Jimi terharu. Air mata Ibu Margaretha jatuh.
“Terima kasih Bapak Polisi sudah datang. Terima kasih Polres Ngada,” ucapnya lirih.