Aipda Hery menegaskan, ini bukan sekadar bagi-bagi sembako.
“Kegiatan ini merupakan bentuk empati dan kehadiran Polri di tengah masyarakat yang butuh. Sekaligus memotivasi keluarga Jimi agar tetap semangat. Kami juga ingin memperkuat kemitraan dengan warga lewat pendekatan humanis, supaya Kamtibmas tetap terjaga,” ujarnya.
Bagi Polres Ngada, “Minggu Kasih” jadi jembatan silaturahmi ke pelosok. Polisi tidak hanya hadir saat ada masalah, tapi juga saat warga butuh didengar dan dirangkul.
Harapan: Kisah Jimi Tidak Berakhir di Paket Sembako
Baca Juga: Menakar Urgensi Reformasi Fiskal dan Integritas Dalam Menjaga Stabilitas Daerah
Sebelum pamit, Aipda Hery menitipkan harapan.
“Semoga ada perhatian banyak pihak untuk memperhatikan keadaan mereka ke depan. Langkah kecil hari ini, mudah-mudahan memicu kepedulian lebih besar dari kita semua,” harapnya.
Kisah Jimi Longa adalah cermin. Di balik gemerlap pembangunan dan peringatan hari besar, masih ada anak muda di NTT yang 10 tahun hidupnya hanya “wortel ditukar beras”.
“Minggu Kasih” hari ini mengingatkan kita: kepedulian tidak harus menunggu viral. Kadang cukup dengan datang, mendengar, dan berbagi.
Dari Wogo, Ngada, pelajaran kemanusiaan hari ini ditulis ulang. Oleh seorang yatim yang tak pernah menyerah, dan seorang polisi yang mau mengetuk pintunya.